Rocky Gerung in GEOLIVE [2]

"..."
27 November 2019


Jalan Pancasila dan Liberalisme

Liberalisme pasti tidak mungkin menghalangi pancasila tu, tapi sebaliknya pancasila bisa menghalangi liberalisme, jadi lebih baik ada kultur liberal supaya pancasila itu memperoleh ruang interpretasi yang lebih luas itu. Misalnya, soal sila kelima “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, kita nggak tahu interpretasinya, apa itu keadilan sosial versi Marxisme, versi Libertarian, versi Komunitarian atau versi Agama, supaya kita bisa bercakap-cakap tentang origin dari sila itu, buka itu, dan membuka itu artinya mempersilahkan semua pikiran  muncul, itu namanya kultur liberal. Karena orang takut liberalisme itu kanan loh. Kalau anda di Amerika bilang “i am Liberal” itu artinya kiri, pro social justice. Kalau di Eropa bilang liberal itu artinya kanan, karena ada partai buruh yang komunis disitu tu, Amerika nggak ada partai buruh, maka partai demokrat jadi partai liberal sebetulnya tu, itu juga kekacauan istilah. Kurikulum mesti dirubah agar kedunguan bisa dikendalikan.



Rekomendasi Buku

Kalau dalam soal melatih berfikir itu yah baca buku filsafat, buku logic itu ... interaction to logic, buku-buku filsafat yang paling enak itu buku Bertrand Russell “History of Western Philosophy” tu, itu buku-buku dasar yang sebetulnya mulai diajarkan di SMA paling nggak logic tu, sejarah intelektual, Bertrand Russel yang tebal itu yang enak dibaca, karena dia bercerita tentang sejarah ide di dalam konteks pergolakan politik di Eropa, jadi kita dapat dua dalil sekaligus, yang lain pasti buku-buku yang berat soal epistimologi tu. Saya lihat ada orang minta dikirimin review soal diterjemahkan tu, tapi terjemahannya ngacok tu pasti, sama buku-buku Prancis, diterjemahkan oleh anak sastra Prancis, ia, tapi bahasa filsafat tidak mungkin diterjemahkan oleh sekedar ahli bahasa, orang Prancis bisa menerjemahkan ke bahasa Indonesia, tapi sainsnya tidak dapat.



Hal pertama yang dilakukan jika menjabat menjadi Presiden

Membubarkan DPR, ya karena produknya buruk semua kan. (kalau DPR dibubarkan mekanisme representasi gimana?), ya anak STM bisa ambil alih posisi itu, BEM bisa ambil alih itu, ya supaya ada tanda bahwa kita mau ganti, bukan ganti (jenis) darah, tapi membersihkan metabolisme tu. Boleh juga kan ide semacam itu, itu ide aja, pasti saya lakukan. Dalam produk undang-undang juga DPR itu tadi kan, logic dari KUHP nda diperiksa, logic PERPU nda di periksa, terus apa kata DPR kalau undang-undang kami bermasalah silahkan bawa ke Mahkama Konstitusi lewat judicial review yah itu namanya dungu, kala dia pintar, dia berupaya supaya produk dia itu tidak diuji di Mahkama Konstitusi itu, masa habis saya bikin mobil tu coba ditabrakin aja tu, kalau nggak bisa kan ada bengkel,justru kita beli mobil supaya nggak masuk bengkel. Ini produk keluar pabrik disuruh masuk bengkel di Mahkama Konstitusi itu kan dungu DPR-nya itu.



Mengurangi orang dungu dalam sistem politik

Bikin aturan baru, bahwa harus dilampirkan hasil “Ujian Logika” tu, (yang bikin standar ujian kan kalau mereka yang lagi bikin itu kan susah lagi), yah...yang akan bikin pasti saya, akan ada  “Badan Pengendalian Kedunguan”.



Libertarian

Orang sering menganggap liberal dan libertarian itu ditukan tambah, gampangnya begini ya, perspektif sosiologis saya, saya membagi humanity tu bukan individuality, jadi bagian dari ototnomi saya nda mungkin saya bagi karena itu individuality, itu disebut libertarian tetapi bagian yang menyangkut masa depan manusia itu yang liberalnya atau sudut liberal atau humanity jadi gampangnya kalau ditanya posisi anda libertarian? Jawab saya, saya membagi humanity karena itu liberal harus begitu tapi saya tetap memelihara individualiti itu  posisi libertarian. Tidak beroposisi.



Arti NKRI

NKRI itu istilah yang berlebihan tu, nggak ada musuh dari luar ngapain pro NKRI, kita pro NKRI kalau serangan dari luar, kalau dari dalam buat apa  pro NKRI diucapkan, dengan sendirinya kalau ada keadilan sosial yah NKRI yang jalan. Yang lebih dungu lagi tu, NKRI harga mati, demi apa, itu kan mitos harga mati, kalau wilayah NKRI harga mati artinya “berapa banyak peluru kendali yang kita punya, kita punya kekuatan nuklir apa nggak tu. Karena harga matinya suatu negara tu ditentukan dengan dekatnya superpower atau nggak. Kalo Cuma sekedar slogan, yaa atau nasionalisme, ya nasionalisme itu ya nggak utuh lagi, setiap saat nasionalisme itu dipengaruhi oleh pikiran global, satu sentimen atau satu statmen human right misalnya tu PBB bisa membatalkan nasionalisme Indonesia. Nasionalisme jadi tameng sebetulnya kalau negara gagal memberi rasa keadilan, maka dia mulai kuliah-in rakyat dengan nasionalisme. Ya nasionalisme itu candu juga buat menutupi kegagalan pemerintah, memberikan keadilan sosial, karena itu langsung NKRI harga mati. Itu basic yang tidak diselesaikan dengan nasionalisme, tapi dengan sosial policy. NKRI harga mati itu lebih terasa militeralistiknya karena langsung dibelakangnya “kami akan menjaga negara”, ya yang menjaga negara tu rasa keadialan publik, menjaga negara dari mana? Ya dari luar. Ya itu dengan sendirinya tugas penjaga negara supaya kita aman bukan menjaga bangsanya sendiri, tapi menjaga musuh tidak datang ke dalam negeri, itu yang disebut menjaga negara kan. Aman ada keadilan ya nggak ada tu teroris. Semua orang kalau dia salah berfikir ya pasti mengamuk.


Pengangguran yang digaji

Itukan diucapkan ketika kampanye-kan, (jika dilakukan sebagai kebijakan) ya memang tugas negara buat membayar negara, karena pengangguran memang itu diakibatkan oleh kebijakan negara yang tidak sampai ke mereka kan. Orang yang nganggur itu bukan nggak mau bekerja tetapi nggak ada pekerja buat dia, jadi ya siapin pekerjaan (jadi negara bertanggungjawab menyiapkan pekerjaan) ya harus itu. Bayangin misalnya, kalau negara nggak urusin orang miskin maka kecerdasannya menurun terus, lalu bagaimana kita ingin memperbaiki negara kalau nggak ada lawan berfikir yang setara, jadi, jadikan dia warga negara yang sehat, punya pride sehingga bisa setara berdebat dalam banyak soal kan prinsip liberal begitu.



Sumber: Youtube "GEOLIVE"---> //youtu.be/pUU2AJ2DZZ0





Catatan: Q n A Media, merupakan salah satu konten terbaru kami hadirkan yang berusaha untuk menyajikan dalam tulisan pandangan-pandangan berbagai tokoh-tokoh nasional yang direkam di sosial media. Konten akan sedikit menyadur statment tokoh namun tidak merubah sedikitpun ke-otentikkannya. Semoga bermanfaat, terima kasih.

Post a Comment

0 Comments