Rocky Gerung in GEOLIVE [1]

27 November 2019



Pernikahan

Pernikahan itu-kan instansi yang disediakan oleh negara untuk meresmikan persetubuhan (yang diterima), belakangan orang mulai menganalisis “kenapa harus diresmikan?” karena ada properties dari masing-masing orang. Jadi, mau menyelamatkan birahi (perlembagaan birahi) sekaligus perlindungan properti itu,  karena hak keturunan dan segala macam. Jadi, itu sebetulnya pengertian saya tentang perkawinan (pernikahan).


Yang lucu, kalau saya jomblo, dianggap saya homo, itu-kan lompatan argumentasi. Saya hetero(sex), tetapi saya menghargai orang yang homo, karena itu adalah hak seseorang punya orientasi seksual. Tentu kalau orang tua, pasti dia tidak ingin anaknya masuk ke situ, tapi kalau orang dewasa, dia punya keputusan sendiri. Selesai itu.


Cara mencari ilmu/pengetahuan (lepas dari keduguan)


Ilmu itu-kan sekarang dalam 4 menit kita dapat membaca buku terbaru/jurnal terbaru. Yang penting kita tahu bahwa pengetahuan itu tumbuh secara eksponensial dibandingkan dengan kultur, kultur selalu terhambat. Jadi, selalu ada ketegangan antara kultur dengan sains, nah, kita harus memilih itu, mau mengaktifkan pikiran atau mau bertumpuh pada fanatisme kebudayaan, ketika kita selesaikan pilihan itu baru kita bisa berandai-andai bisa jadi cerdas. Kalau tidak bisa atasi itu, ya sudah, tidak usah berharap (menghapuskan ke-dugu-an).


Humor dalam percakapan publik


Saya gembira-gembira saja, karena saya butuh hiburan. Sebetulnya (dalam percakapan) ngakak  duluan baru saya ngomong, karena logikanya belepotan. Logika belepotan itu justru menimbulkan humor. Humor bisa terjadi kalau orang bisa merusak logika itu. Kalau dia humoris pasti dia lakukan itu (membengkokkan logika), nah mereka tidak sadar bahwa logikanya bengkok, jadi dalam hati saya sudah ketawa duluan. Belepotan kalimatnya, logikanya berantakan, jadi saya (dalam percakapan) ketawa saja.

Pandangan kenegarawan

Saya tidak punya hasrat pada kekuasaan, saya ingin agar supaya negeri ini dihidupkan dengan akal pikiran, kan sudah jadi presiden akal sehat. Itu sudah capaian tertinggi, karena tanpa mencalonkan dinyatakan secara aklamasi jadi presiden akal sehat, oke, itu kegembiraan yang luar biasa sekaligus satire yang luar biasa, karena itu sebetulnya mau menghina orang lain, mereka yang memberi presiden akan sehat, sebetulnya dia mau bilang bahwa yang disana itu gerombolan akal dungu sebenarnya.


Jika ditawari jadi Penasehat Presiden


Tidak, karena memberi nasehat itu artinya sok tahu. Nasehat kan tidak perlu ada resminya, apa pentingnya itu (bercakap-cakap saja). Kalau memberi nasehat (meresmikan nasehat) itu artinya kritik mau di-domestifikasi institusi bahayanyakan.


Kehidupan Atheis di Indonesia

Bisa (hidup di Indonesia). Karena atheisme itu tidak mengganggu, atheisme kan bukan kriminal, atheis bayar pajak, negeri ini perlu pajak, apa yang ditakuti. Sila kedua memungkinkan orang jadi atheis, humanisme itu adalah atheis, “kemanusiaan yang adil dan beradab-sila kedua pada pancasila” dasarnya adalah atheis. Saya terangkan sedikit yah supaya tidak salah paham, “kalau saya berbuat baik atas nama kemanusiaan, tidak ingin dapat pahala di surga, orang akan bilang saya atheis. Karena tidak percaya ada pahala di surga, ya nggak ada soal, karena saya tidak ingin berbuat sesuatu untuk dapat pahala, justru itu perbuatan yang tidak otentik (palsu kalo bilang), saya berbuat sesuatu kebaikan supaya saya masuk surga itu, kalau masuk surga yah bonus aja”. Nah, pikiran semacam itu ya pikiran sekuler, di dalam sekularisme (di dalam pikiran sekuler) ada versi atheisme itu, tidak semua atheis adalah sekuler, tapi, ada versi atheis dalam sekuler yaitu humanisme tadi.


Nah, dalam sejarah politik, sila kedua itu, yang Bung Karno sebut humanisme yang kemudian dipanjang-kan menjadi kemanusiaan yang adil dan beradab, itu justru di abad tengah dimaksudkan untuk membatalkan otoritas gereja Teokrasi yang menganggap bahwa orang itu hanya berbuat baik bila direstui oleh langit bahkan disebut solagracia, karena direstui oleh tuhan maka dia berbuat baik, itu konsekuensi-nya panjang bahwa politik dikendalikan oleh gereja, maka muncul humanisme. Jadi, humanisme itu antitesis dari Teokrasi, dengan kata lain sila kedua pancasila itu, antitesis dari sila pertama sebetulnya. Sebetulnya bertentangan kedua sila itu, nah saya menafsirkan.


Pancasila itu bukan sesuatu yang utuh, itu gabungan dari macam-macam pikiran sebetulnya. Karena itu tidak tepat menyebutkan “Pancasila itu Ideologi” sebut saja pancasila itu pandangan hidup yang plural. Kalau ideologi kan mesti tunggal-koheren. Sila pertama pasti bertentangan dengan demokrasi-demokrasi boleh tidak bertuhan, demokrasi kan boleh nggak beragama kan, karena agama itu adalah hak, jadi boleh dia pakai boleh nggak dia pakai. Kalau di kita sekarang kan kalau tidak beragama tidak pancasilais, loh agama itu adalah hak, boleh dipakai boleh nggak dipakai, sama dengan golpout agama itu kan, jadi atheisme itu sebetulnya golput di dalam teologi, saya tidak mau pakai hak saya beragama, apakah saya jahat? Tidak, jahat kalau melanggarkan OHP, membunuh orang, apakah atheis membunuh orang?, begitu banyak penerima nobel perdamaian yang justru sebenarnya atheis, nah, disini atheis justru dianggap hal yang berbahaya. Kita mesti jujur suapaya kita nggak dihantui oleh istilah yang nggak kita paham. Padahal secara kebudayaan agama asli kita tu ada yang animesme, atheisme, politheisme. Atheisme juga agama karena dia meyakini sesuatu hanya berdasarkan kemampuan dia melihat penderitaan, lalu dia layani penderitaan orang lain, kan dia sudah beragama sebetulnya bagi dia kan.


Yang kacau, atheisme dianggap nggak bertuhan, bukan, atheisme itu tidak peduli dengan konsep tuhan. Ngapain dia ans (lakukan) sesuatu yang dia nggak peduli, ya soal biasa, menjelaskan itu agak susah sebetulnya, ya anggapannya antituhan- nggak antituhan. Itu antitheis. Nah, orang bisa misalnya bertuhan pada pengetahuan dia sendiri,  pada imajinasi yah silahkan.



Sumber: Youtube "GEOLIVE"---> //youtu.be/pUU2AJ2DZZ0




Catatan: Q n A Media, merupakan salah satu konten terbaru kami hadirkan yang berusaha untuk merekan dalam tulisan pandangan-pandangan berbagai tokoh-tokoh nasional yang direkam di sosial media. Konten akan sedikit menyadur statment tokoh namun tidak merubah sedikitpun ke-otentikkannya. Semoga bermanfaat, terima kasih.

Post a Comment

0 Comments