002
RAHASIA YANG DISIMPAN
Sementara aku masih memegang buku yang entah sejak kapan aku
menyimpannya. Lamunan itu berhenti sejenak, memandangi tumpukan buku tulis
dalam kardus yang sudah usang. Dimana saya memulainya, bukunya terlalu banyak.
Saya tidak menyangka, bapak menulis semua kesehariannya secara rapi. Itulah
mengapa, saya tidak terlalu susah dalam merangkai kata, DNA itu telah nyata
turun dari garis keturunan bapak. Dia sosok penyendiri, selalu ada kata sunyi
dalam kesehariannya. Dia yang memiliki selalu waktu untuk menuliskan Kembali
apa yang telah ditulisnya.
Secara acak ku ambil satu buku, debunya terlalu tebal.
Melihatnya dari luar, sepertinya semua halaman telah terisi oleh coretan.
Berusaha meyakinkan diri untuk komitmen membaca semua tulisan bapak.
____
Malili, November 2011
Ternyata waktu tak memberiku kesempatan menyiapkan
segalanya. Keluar dari rumah singgah yang 2 tahun ini sebagai tempat belajar.
Tamparan itu menjadi luka mendalam di hati. Mungkin sakitnya di pipi akan
hilang, namun rasanya akan selalu ku ingat.
Di benak, sekarang dan dari dulu, masih tak ada rumah yang
nyaman senyaman dalam ingatan. Kakiku seolah menarikku ke rumah-Mu. Rumah yang
selalu terbuka di mana pun dan kapan pun aku mau bertamu. Tak ada embel-embel,
atau pun tetek benge. Harus ini-itu.
Saya selalu meminta maaf dalam hati sehabis selesai membuat
lantaiMu menjadi licin. Ku usap dengan bajuku yang begitu kotor ini. Tuhan,
mengapa seperti ini. Akan jadi apa aku dimasa depan dengan segala kemiskinan
yang ku punya. Tak adakah rejeki yang bisa sedikit menjanggal perutku. saya
terlalu lemah untuk hal-hal ini. Biarkan aku mendapat makanan sedikit saja.
Hari mulai diakhiri, waktu hampir magrib, saya tak menunggu
banyak waktu, jam digital diatas sana sudah menunjukkan waktunya. Ku kumandangkan
adzan magrib.
…
Tiga hari saya lamanya menumpang di rumah-Mu, hingga Engkau
kirimkan sosok yang berhati baik untuk memanggilku ke kediamannya. Itu orang
tua dari temanku di IPA 2, katanya, didekat rumahnya ada kos-kosan yang biasa
digunakan oleh anak sekolah yang domisilinya di pelosok. Waktu itu saya
menolak, namun beliau sudah membayarkan sewa kos-kosan itu selama 2 bulan. Saya
tidak enak hati untuk tidak menerimanya. Beliau sudah mengenal aku cukup lama,
namun kami tidak pernah bertegur sapa. Dari awal sampai dikota ini, hanya Ketika
aku sakit atau di luar kota, melewatkan waktu sholat di masjid ini. kata beliau
dia mengenalku dengan baik, dia selalu mengamatiku, Ketika mengaji sehabis magrib,subuh
dan membersihkan masjid sebelum masuk waktu sholat.
2 malam saya di rumah beliau menginap, lalu kemudian beralih
tempat ke kosan baru.
____
Saya menutup karna tak sanggup membacanya. Tulisan itu
begitu acak, namun kejadiannya seolah bisa aku bayangkan. Tak sanggup saya
membayangkannya, kejadian itu kira-kira Ketika bapak masih SMA, beliau pernah
bercerita bahwa ia lulusan satu-satunya SMA di Malili pada saat itu.
Seharian, belum berani aku membuka buku-buku itu lagi, namun
ada dorongan yang begitu kuat membuat penasaran dengan sosok bapakku…
Bersambung…
0 Comments