MENGAPA BAPAK MENGIRIMKU KESINI?


 001

piqsels.com


"...Dunia menulis telah banyak mengambil kata-katanya hingga terlihat selalu bisu..."


Horizon memerah telah nampak. Sosokmu selalu mendahului orang-orang beraktivitas. Berdiri depan jendela dapur, mengaduk-ngaduk gelas berisi kopi. Semuanya berlalu dengan sunyi, memutar sendok hingga suara gentingan tak terdengar. Angin sepoi membantumu, membangunkan seisi rumah dengan aroma kopi. Sedikit gula. Langkah kakimu selalu mengarah ke ruang tamu setelah menyeduh kopi. Duduk di atas kursi kayu yang kau buat sendiri, padahal mama telah menyediakan sofa yang empuk. Punggungmu memang berbeda dengan kebanyakan orang. Menyetel tv ke siaran berita pagi, dan siap menulis di buku kecilmu. Kotak itu kau buka dengan gemulai, mengeluarkan rokok sebatang dan perlahan korek api pun mulai memerahkan ujung nya. Sambil memejamkan mata, kepulan asap kau hembuskan dengan perlahan. Terasa nikmat. Ya, setiap pagi.



Masih dengan selimut, aku berjalan ke belakang rumah, duduk di tangga belakang samping memerhatikanmu. Menyiapkan pakan ayam. Menghampiri pintu kandang ayam. Satu per satu kau ulurkan munuju wadah pakan. Bersuara menirukan ayam. Beberapa ayam kamu keluarkan, mengelus sehabis makan. Memandikan bagian kepala hingga kaki. Tanganmu penuh hati-hati menyentuh setiap ayam. Berlama-lama duduk disini memerhatikan dirimu dengan aktivitas yang tak pernah membuatmu bosan.


Ketika kamu menyadari keberadaanku, bergegas memasukkan peliharaanmu dan menyuci tangan dari keran. Menggendongku menuju ruang dapur. Mengajarkan mencuci muka dan tangan. Menyiapkan sarapanku sesegera mungkin. Sesekali siulan keluar dari bibirmu. Itu menandakan suasana hatimu selalu senang dengan kegiatan-kegiatan itu.



Ingatan-ingatan itu masih terasa segar di kepala. Saat-saat kau menyiapkan sarapan, memberikan pakan ternak, menonton tv dan kopi yang kau seduh menjadi ciri khas yang kami kenal seisi rumah. Saat dimana aku tak pernah disuapi dengan tanganmu. Saat dimana selalu ada kamu ketika ingin berangkat sekolah. Saat-saat indah yang selalu segar di kepala.



Sedari dulu, aku sering bertanya-tanya, hal apa saja yang kamu tulis setiap pagi dan malam hari. Saat itu aku tidak tahu dengan jelas. Entah mengapa, kamu suka dengan kegiatam-kegiatan itu? Mama pernah bilang, bapakmu tidak pernah melulusi apapun, ia hanya tahu belajar dan belajar sewaktu umur belianya. Namun, aku sangat ragu saat itu. Soalnya, bapak selalu menulis hal yang tidak aku dan mama  mengerti, penuh dengan angka dan huruf di buku catatannya. Terlebih bapak punya ruangan yang dipenuhi buku dan alat-alat peraga. Sosok yang cukup misterius. Kadang, aku berfikir bahwa ayah itu seorang penulis sejati. Dunia menulis telah banyak mengambil kata-katanya hingga terlihat selalu bisu.



10 tahun bukan waktu yang singkat untuk mengembalikan ingatan-ingatan itu. Aku tumbuh menjadi gadis remaja yang cukup bahagia. Punya sosok orang tua yang sangat ideal dan jarang saya jumpai dari orang tua teman-teman saya. “EL, ambilkan rokok Bapak nak!” suaramu yang lemah lembut namun berwibawa. Kebiasaanmu belum berubah sedari dulu. Dan aku tidak pernah bosan memerhatikanmu dari tangga belakang rumah.


...bersambung...

Post a Comment

0 Comments