![]() |
| piqsels.com |
"...Dunia menulis telah banyak mengambil kata-katanya hingga terlihat selalu bisu..."
Horizon memerah
telah nampak. Sosokmu selalu mendahului orang-orang beraktivitas. Berdiri depan jendela dapur,
mengaduk-ngaduk gelas berisi kopi. Semuanya berlalu dengan sunyi, memutar
sendok hingga suara gentingan tak terdengar. Angin sepoi membantumu, membangunkan seisi rumah dengan aroma kopi. Sedikit gula. Langkah kakimu selalu
mengarah ke ruang tamu setelah menyeduh kopi. Duduk di atas kursi kayu yang kau
buat sendiri, padahal mama telah menyediakan sofa yang empuk. Punggungmu memang
berbeda dengan kebanyakan orang. Menyetel tv ke siaran berita pagi, dan siap
menulis di buku kecilmu. Kotak itu kau buka dengan gemulai, mengeluarkan rokok
sebatang dan perlahan korek api pun mulai memerahkan ujung nya. Sambil memejamkan
mata, kepulan asap kau hembuskan dengan perlahan. Terasa nikmat. Ya, setiap
pagi.
Masih dengan
selimut, aku berjalan ke belakang rumah, duduk di tangga belakang samping
memerhatikanmu. Menyiapkan pakan ayam. Menghampiri pintu kandang ayam. Satu per
satu kau ulurkan munuju wadah pakan. Bersuara menirukan ayam. Beberapa ayam
kamu keluarkan, mengelus sehabis makan. Memandikan bagian kepala hingga kaki. Tanganmu
penuh hati-hati menyentuh setiap ayam. Berlama-lama duduk disini memerhatikan
dirimu dengan aktivitas yang tak pernah membuatmu bosan.
Ketika kamu
menyadari keberadaanku, bergegas memasukkan peliharaanmu dan menyuci tangan
dari keran. Menggendongku menuju ruang dapur. Mengajarkan mencuci muka dan
tangan. Menyiapkan sarapanku sesegera mungkin. Sesekali siulan keluar dari
bibirmu. Itu menandakan suasana hatimu selalu senang dengan kegiatan-kegiatan
itu.
Ingatan-ingatan
itu masih terasa segar di kepala. Saat-saat kau menyiapkan sarapan, memberikan
pakan ternak, menonton tv dan kopi yang kau seduh menjadi ciri khas yang kami
kenal seisi rumah. Saat dimana aku tak pernah disuapi dengan tanganmu. Saat
dimana selalu ada kamu ketika ingin berangkat sekolah. Saat-saat indah yang
selalu segar di kepala.
Sedari dulu, aku
sering bertanya-tanya, hal apa saja yang kamu tulis setiap pagi dan malam hari.
Saat itu aku tidak tahu dengan jelas. Entah mengapa, kamu suka dengan
kegiatam-kegiatan itu? Mama pernah bilang, bapakmu tidak pernah melulusi apapun,
ia hanya tahu belajar dan belajar sewaktu umur belianya. Namun, aku sangat ragu
saat itu. Soalnya, bapak selalu menulis hal yang tidak aku dan mama mengerti, penuh dengan angka dan huruf di buku
catatannya. Terlebih bapak punya ruangan yang dipenuhi buku dan alat-alat
peraga. Sosok yang cukup misterius. Kadang, aku berfikir bahwa ayah itu seorang penulis sejati. Dunia menulis
telah banyak mengambil kata-katanya hingga terlihat selalu bisu.
10 tahun bukan
waktu yang singkat untuk mengembalikan ingatan-ingatan itu. Aku tumbuh
menjadi gadis remaja yang cukup bahagia. Punya sosok orang tua yang sangat
ideal dan jarang saya jumpai dari orang tua teman-teman saya. “EL, ambilkan rokok Bapak nak!”
suaramu yang lemah lembut namun berwibawa. Kebiasaanmu belum berubah sedari
dulu. Dan aku tidak pernah bosan memerhatikanmu dari tangga belakang rumah.
...bersambung...

0 Comments