TENTANG NIHILISME {2}


"...Anda dapat membuat daftar panjang gejala-gejala bagaimana kebudayaan Eropa yang mengglobal “bergerak seakan bergerak menuju bencana”, mulai dari Auschwitz, Hirosima, palestina, Vietnam, pembantaian PKI di Jawa, Yugoslavia, Rawanda..."

Hasil gambar untuk animasi nihilisme
library.binus.ac.id

“{sambungan PART 1}...Sejarah nihilisme ini bahkan dapat dituturkan sekarang; karena kepastian sekarang sudah terlihat sekarang. Masa depan ini bahkan sudah berbicara sekarang dalam ratusan tanda, tanda-tanda yang menyatakan diri di mana-mana; karena semua  semua gendang telinga sekarang bahkan sudah dipetakan oleh musik masa depan. Sekarang, untuk beberapa saat seluruh kebudayaan Eropa kita telah bergerak seakan menuju bencana, dengan tegangan-tegangan menyakitkan yang bertumbuh dari satu dekade ke dekade berikutnya; selalu gelisah, dengan kekerasan, seperti aliran sungai yang ingin mencapai akhir, yang tidak lagi bermenung, yang takut bermenung.”


Teks luar biasa itu ditulis sebagai catatan-catatan Nietzsche untuk proyek yang tidak sempat ia selesaikan, antara November 1887 sampai Maret 1888, atau sekitar dua abad yang lalu. Membaca teks itu sekarang membuat kita, mau tidak mau, mengakui bahwa memang seorang “nabi” yang menulis bukan untuk zamannya, seorang yang “datang terlalu awal” dan tahu bahwa “waktuku belum tiba” (GS_125). Ketika ia mulai menulis catatan-catatan itu, apa yang disebutnya sebagai “kebudayaan Eropa kita” justru mencapai puncak kejayaan: kepercayaan pada gagasan kemajuan tak terbatas yang dipimpin oleh penemuan sains dan teknologi yang mencengangkan. Eropa belum mengalami-atau bahkan pernah membayangkan-dua perang dunia, dan neraka Auschwitz di mana enam juta orang Yahudi dibantai.


Tetapi di tengah optimisme dan kepercayaan pada kemajuan tak terbatas itulah, Nietzsche sang nabi menubuat-kan kedatangan nihilisme, sebuah krisis kebudayaan yang tak terelakkan, di mana nilai-nilai tertinggi kehilangan maknanya, tujuan tidak lagi ada, dan pertanyaan “mengapa” tidak menemukan jawabannya. Hari-hari ini kita, para pewaris kebudayaan Eropa yang mengglobal, seperti menemukan kebenaran nubuatan itiu dan harus di dalam horizonnya. Anda dapat membuat daftar panjang gejala-gejala bagaimana kebudayaan Eropa yang mengglobal “bergerak seakan bergerak menuju bencana”, mulai dari Auschwitz, Hirosima, palestina, Vietnam, pembantaian PKI di Jawa, Yugoslavia, Rawanda. ... Dan, bagaimana irama kehidupan kita “selalu gelisah, dengan kekerasan”, kehidupan di permukaan “yang tidak lagi bermenung, yang takut bermenung”.


Terlalu panjang rincian yang harus dibuat,  jadi ketimbang berusaha payah membuat daftar itu, saya justru ingin mengajak anda bergulat dengan salah satu aforisme Nietzsche yang paling mahsyur, “Perumpamaan orang-oang singting” (GS_125), lalu menarik konsekuensi-konsekuensinya. Perumpamaan itu sudah sering didiskusikan orang, tetapi sekaligus juga sering disalahpahami, seperti Nietzsche  sendiri. Namun, menurut saya, kita harus bergulat dengannya karena perumpamaan itu menyediakan pintu masuk bukan saja untuk menilisik nihilisme, tetapi juga mengarungi horizonnya. Tentu, jika kita siap memasuki “kesintingan metodologis” Nietzsche.


~Oleh:

A.    SetyoWibowo 

Sumber: Disadur dari buku dengan Judul “Para PembunuhTuhan”, Penerbit PT Kanisius

Post a Comment

0 Comments