"...apa yang kukisahkan adalah sejarah tentang dua abad yang akan datang. Aku melukiskan apa yang akan terjadi, apa tak terelakkan akan terjadi: kedatangan nihilisme..."
library.binus.ac.id |
Oleh:
A. SetyoWibowo
Nihilisme, kata Goenawan
Mohammad dalam catatan pinggiran-nya yang (selalu) menawan, “memang bisa asyik.
Ia memperdaya” (Tempo, 25 Agustus 2008).
Saya ingin menelusuri keasyikan nihilisme walau dengan resiko diperdaya
olehnya, tanpa harus memasuki rincian makna istilah itu-sebuah kaya yang, pada
dasarnya, memang sudah memperdaya. Dan membuka begitu banyak kemungkinan
tafsir. Esai Goenawan, misalnya, lebih berbicara soal “semacam nihilissme”
dalam pentas tontonan yang juga murahan. Orang murahan yang menghasilkan pentas
tontonan yang juga murahan. Orang dapat berdebat apakah istilah “nihilisme”
bahkan “semacam nihilime”-memang tepat dipakai atau tidak.
Debat seperti itu bukan
urusan saya. Apa yang mau saya lakukan dalam esai ini barulah merupakan
percobaan untuk menelusuri nihilisme, sekaligus juga membaca teks-teks
Nietzsche-atau bahkan baru mencari pintu masuk guna membacanya, dan menambahkan
kata horizon, yang dinubuatkannya. Dengan sengaja, saya menambahkan kata
horizon, cakrawala yang turut bergelar dan memberi kerangka.
Sebab, menurut saya,
Nietzsche sedang tidak membicarakan nihilisme sebagai paham atau pendirian
filosofis, melainkan mau melukiskan semangat dan suasana (stimmung) zaman yang serba melingkupi. Di situ sekaligus juga
diakui, nihilisme sebagai horizon yang tidak pernah mampu dilampaui. Karena itu,
tak ada jawabannya walau selalu menggoda dan sekaligus memperdaya.
Saya sendiri ragu apakah
“kita”-saya memakai kata ganti ini begitu saja, karena sesungguhnya hanya problematis-memang dapat membacanya Nietzsche. Tetapi kita harus membacanya, dengan tertatih-tatih dan gemeta jika kita
aungguh-sungguh mau bergulat dengan nihilisme. Sebab, lebih dari pemikiran
lainnya, Nietzsche adalah orang yang sudah dari jauh-jauh hari melihat apa yang
disebutnya kedatangan nihilisme yang terletak itu, dan kini menjadi horizon
kita. Begini ia menulis, dalam catatan proyek yang tak selesai, dan diterbitkan
setelah meninggal:
“Apa yang kukisahkan
adalah sejarah tentang dua abad yang akan datang. Aku melukiskan apa yang akan
terjadi, apa yang tak terelakkan akan terjadi: kedatangan nihilisme.
.................................................{Bersambung Coy}.....................................
Sumber: Disadur
dari buku dengan Judul “Para PembunuhTuhan”, Penerbit PT Kanisius
0 Comments