TAK PERNAH TERLALU TUA UNTUK MEWUJUDKAN MIMPI

“...Satu pekan setelah wisuda Rose meninggal dengan tenang dalam tidurnya. Lebih dari dua ribu mahasiswa menghadiri pemakaman-nya...”

Hasil gambar untuk animasi penulis
pixhere.com







Pada hari pertama masa perkuliahan, dosen kami memperkenalkan diri di kelas kimia, lalu menantang kami untuk mengenal seorang yang belum pernah kami kenal di ruangan itu. Aku berdiri untuk melihat sekelilingku ketika sebuah tangan yang lembut menyentuh pundak ku. Aku berpaling dan di luar dugaan ku aku mendapat seorang nenek yang bertubuh kecil, keriput, menyapa ku dengan tersenyum yang membuat tubuhnya seolah-olah memancarkan cahaya.


Katanya, “Hai, namaku Rose. Aku delapan puluh tujuh tahun. Bolehkah aku memeluk kamu?”
            Aku tertawa dan dengan bersemangat menanggapinya. “tentu saja boleh!” maka dia memeluk ku kuat sekali.
            “Mengapa Anda kuliah dalam usia yang masih begini muda?” tanyaku.
            Dengan bergurau dia menjawab, “Aku di sini dengan harapan bertemu seorang suami kaya raya, menikah, mempunyai beberapa anak, kemudian pensiun dan bertamasya.”
            “Baiklah. Sekarang, jawaban yang serius,” kataku. Aku ingin sekali mengetahui motivasinya untuk mengambil tantangan di usianya yang sudah sangat lanjut.
            ”aku selalu bermimpi bisa menempuh pendidikan tinggi dan sekarang aku mendapatkannya!” katanya kepadaku.


Seusai kami berjalan menuju ke kantin mahasiswa untuk bersama-sama menikmati susu coklat. Kami langsung menjadi sahabat. Setiap hari selama tiga bulan berikutnya kami selalu meninggalkan kelas bersama-sama dan tak pernah berhenti berbincang-bincang. Aku selalu terpesona mendengarkan “mesin waktu” ini sewaktu dia membagikan kearifan dan pengalamannya kepadaku.
           

Selama masa perkuliahan, Rose menjadi ikon kampus dan dengan mudah mendapatkan teman ke mana pun dia pergi. Dia senang berdandan dan membalas setiap perhatian yang diberikan kepadanya oleh mahasiswa-mahasiswa lain. Dia membuat suasana terasa hidup.


Pada akhir semester kami mengundang Rose untuk berpidato di depan pesta klub sepak bola kami dan aku tidak pernah melupakan yang dia ajarkan kepada kami. Setelah pembawa acara menyebut namanya, dia naik ke podium. Namun, tepat ketika akan menyampaikan pidato yang telah disiapkan, tak sengaja dia menjatuhkan kartu-kartu kecil berisi catatan nya ke lantai. Dengan panik dan agak malu, dia membungkuk ke mikrofon dan berkata,  “Maaf, aku terlalu gugup. Aku sudah lama tidak minum, bir dan wiski di pesta ini terlalu keras untukku! Tanpa catatan, pidato ku akan sedikit ngawur, namun setidaknya aku dapat bercerita tentang yang aku ketahui.” Sewaktu kami tertawa, dia membersihkan tenggorokan nya lalu memulai pidato nya:

            “kami tidak berhenti bermain karena kita menjadi tua; kita justru menjadi tua karena kita berhenti bermain. Hanya ada empat rahasia untuk tetap muda, tetap bahagia dan meraih sukses.
            “kalian harus tertawa dan menikmati hal-hal yang lucu setiap hari.
            Kalian harus mempunyai mimpi. Ketika kalian kehilangan mimpi-mimpi itu, kalian sama dengan mati. Banyak orang lalu lalang di sekitar kita yang sungguhnya mati, namun mereka bahkan tidak tahu kalau mereka sudah mati!


“ada perbedaan yang sangat besar antara menjadi tua dan menjadi dewasa. Jika kalian sembilan belas tahun lalu melakukan apa pun yang produktif, kalian akan tetap meraih usia dua puluh tahun. Jika kalian  tujuh belas tahun dan terus berbaring di tempat tidur selama setahun tanpa berbuat apa pun, aku akan tetap akan meraih usia delapan puluh delapan tahun. Siapa pun bisa menjadi tua. Itu tidak memerlukan bakat atau kemampuan khusus. Sebaliknya, menjadi dewasa adalah selalu mencari peluang dalam perubahan.

            “jangan pernah menyesal. Orang lanjut usia biasanya tidak menyesali yang telah kami perbuat, kami justru menyesali yang tidak sempat kami perbuat. Orang satu-satunya yang takut adalah orang-orang yang menanggung penyesalan.”

Dia mengakhiri pidato nya dengan menyanyikan lagu “The Rose”. Dia menantang kami untuk mempelajari liriknya dan menjalankannya dalam kehidupan kami sehari-hari.


Pada akhir tahun, Rose menyelesaikan kuliah yang pernah dia mulai entah berapa tahun yang lalu. Satu pekan setelah wisuda Rose meninggal dengan tenang dalam tidurnya. Lebih dari dua ribu mahasiswa menghadiri pemakaman nya sebagai penghargaan terhadap sosok perempuan luar biasa yang telah mengajarkan melalui teladan bahwa tak ada istilah terlambat untuk mengerjakan yang mampu kita kerjakan.


~Dan Clark


Sumber:
disadur langsung dari buku yang berjudul "Chicken Soup for the Soul", PT. Gramedia Pustaka Utama, 2010

Post a Comment

0 Comments