MEMBACA-BEBAS MELUASKAN PANDANGAN

Pada suatu ujian lisan untuk menentukan apakah seseorang mahasiswa patut mendapat nilai C ataukah ia terpaksa diberi nilai E, saya bertanya kepadanya apa cita-citanya kalau insya Allah ia menjadi statistikawan. Tanpa ragu-ragu ia mengatakan ingin bekerja di suatu lembaga pengumpul pendapat. Saya katakan bahwa salah satu jenis klien yang mungkin dihadapinya nanti adalah biro iklan atau orang yang ingin memasang iklan. Oleh Karena itu saya minta kepadanya bagaimana menyusun strategi membuat kaidah, di surat kabar mana orang harus mengiklankan iklan menjual mobil bekas sederhana dan mobil bekas mewah, di majalah mana orang harus menempatkan iklan kamera kelas tiga jutaan dan kelas tigaratus ribuan. Dengan serta merta pula ia mengatakan bahwa ia tidak ingin menjawab pertanyaan itu Karena ia tidak membaca surat kabar dan majalah mana pun kecuali tabloid ‘U’ yang jalan pikirannya sehaluan dan seiman dengan dia.

Maka saya katakan kepadanya bahwa ujian sudah selesai. ‘Mengapa tidak ada pertanyaan lain?’ katanya. Saya menjawab bahwa tidak ada pertanyaan lain yang dapat saya tanyakan kepadanya. Dengan keyakinan yang besar saya bubuhkan E pada daftar angkanya Karena saya anggap dia tidak pantas menjadi seorang peneliti atau pengumpul pendapat. Bagaimana dia mampu mengumpulkan pendapat masyarakat kalau sebelumnya ia sudah bersikap apriori.
Bertentangan 180 derajat dengan sikap ini adalah sikap percaya mutlak akan kebenaran hal-hal yang sudah disajikan dalam bentuk tercetak. Ketika berwawancara dengan seorang finalis Lomba Penelitian Ilmiah Remaja, saya mengatakan kepadanya bahwa metode perhitungannya yang digunakannya itu salah, Karena ada hal-hal yang tidak memenuhi persyaratan. Dengan serta merta ia mengatakan bahwa yang salah itu saya, Karena apa yang diikutinya adalah suatu petunjuk tercetak di dalam suatu buku catatan kuliah untuk perguruan tinggi.


Untuk mencoba mengobati dua gejala ekstrem ini dalam tugas akhir mata kuliah Pengantar Ke Filsafat Sains selalu saya ceritakan bahan pustaka yang konstroversial dan kadang-kadang menyinggung hati-nurani saya, yang membacanya. Pada mulanya banyak mahasiswa yang merasa jengkel disuruh membaca makalah atau buku yang bertentangan dengan hati-nuraninya, misalnya saja kontroversi mengenai evolusi dan kontrasepsi. Namun kemudian baru tampak kegunaannya setelah mereka dapat menemukan masalah-masalah yang dapat diperdebatkan.


Suatu peristiwa yang pada mulanya agak menegangkan saya hadapi ketika kepada seseorang mahasiswa pascasarjana IAIN saya tugasi untuk membuat bahasan mengenai umur manusia. Saya kemukakan beberapa teladan tentang hubungan antara tingkat pemeliharaan kesehatan di berbagai negara diucapkan dalam presentasi dari anggaran tahunan yang dialokasikan untuk pemeliharan kesehatan dengan harapan-hidup penduduk di negara itu. Misalnya saja Karena pemeliharaan kesehatan yang bertambah baik, harapan-hidup orang Jepang meningkat. Demikian pula halnya dengan di Indonesia.

Pertanyaan saya adalah apakah manusia dapat mengupayakan agar umurnya menjadi lebih panjang?. Kalau jawabannya dapat, apakah hal itu tidak bertentangan dengan agama, tetapi kalau jawabannya tidak dapat, buat orang yang berupaya memelihara kesehatannya dengan berolahraga, mengatur cara makan dan sebagainya, Karena umurnya menurut kadar sudah ditentukan sebelumnya. Tugas ini saya berikan kepada mahasiswa terakhir dalam kelas yang belum menentukan pokok bahasan tugas akhirnya. Karena rekan-rekan yang lain sudah memilih terdahulu pokok bahasan apa yang akan mereka sajikan, yang tersisah baginya adalah pokok bahasan yang paling sulit.

Memiliki sikap ragu-ragu dengan demikian banyak mudaratnya, dan sebagai akibatnya tugas akhirnya pun masuk paling akhir Karena ia baru memutuskan paling akhir Karena tidak ada pilihan lain selain mengerjakan tugas yang tersulit. Apa isi tulisnnya? Susunan pembahasannya bagus sekali dengan menyebutkan berbagai ayat, hadis, dan pendapat para ulama yang mendukung salah satu pihak. Akan tetapi dalam bentuk seperti yang dikirimkannya itu saya hanya dapat memberinya nilai B untuk nilai matakuliah Filsafat Sains. Kalau saja ia berani menyatakan pendapatnya, kubu mana ia berada, dengan mengemukakan alasan secara ilmiah, ia akan saya beri nilai A, walaupun misalnya pendapatnya itu bertentangan dengan pendapat pribadi saya.

Satu bulan kemudian datanglah suatu tambahan terhadap makalahnya yang merupakan pemberian pilihannya dengan alasan-alasan yang disajikan secara ilmiah. Walaupun keputusan akhirnya itu tidak sama dengan pendapat saya, saya kembalikan makalahnya itu kepada ketua program Pascasarjananya dengan menuliskan nilai A dalam bulatan di sudut atas kanan halaman pertama tulisannya itu.

Itulah juga yang harus dijaga oleh seorang dosen, yaitu tidak apriori ingin membentuk muridnya agar sama dengan dirinya sendirinya. Megajari seseorang bukan berarti bahwa orang itu akhirnya harus tunduk mengikuti jalan pikiran gurunya. Agar murid kita mampu menyusun pendapat yang mencerminkan pemikirannya sendiri ia harus diberi kebebasan menggunakan nalarnya melihat permasalahan dari sudut pandangannya sendiri. Demikianlah Plato yang merupakan seorang rasionalis mempunyai seorang murid hebat bernama Aristoteles. Ia pendiri mazhab Empirisme yang menemukan pengetahuan baru melalui pengalaman berdasar induksi. Pandangan ini berlawanan dengan pandangannya gurunya Plato, yang sebagai tokoh mazhab Rasionalisme tidak percaya bahwa pengetahuan yang benar dapat diperoleh dari pengalaman. Namun akhirnya juga tampak bahwa kedua mazhab ini harus bekerja sama. Itulah yang terjadi dalam metode penelitian ilmiah modern.


Hanya dengan cara membebaskan seorang murid mempunyai pandangan yang tidak perlu sama dengan gurunya dalam menimbah ilmu, pada suatu ketika ia akan dapat lebih pandai dari gurunya. Yang harus diingat oleh seorang guru ialah bahwa ‘Guru yang pandai suatu ketika akan menjadi lebih bodoh dari muridnya, sedangkan guru yang bodoh, kapan pun juga di dalam perjalanan hidupnya akan tetap saja lebih pandai dari muridnya’.


Oleh
Andi Hakim Nasoetion
Dayeukolot, 27 September 1999

Sumber: Buku dengan Judul “Pola Induksi Serang Eksperimental”,IPB PRESS

Post a Comment

0 Comments