![]() |
| nu.or.id |
Puthut EA
“...berhentilah menyalahkan alat dan cara mencari ilmu..."
Seorang kiai
yang dikenal telah melahirkan santri-santri cemerlang, tidak bisa menyimpan
rasa resah yang ditahannya selama hampir dua tahun ini. Akhirnya dia memanggil
salah satu santri seniornya yang sudah malang melintang di jagat intelektual,
dan dikenal sebagai salah satu intelektual muda islam yang cukup terkenal
karena kedalaman ilmunya, dan keluasan cakrawala pengetahuannya.
Begitu sang
Santri menghadap, setelah saling berbagi kabar karena cukup lama, tak bertemu,
sambil makan lumpia dengan minum ter nasgitel, sang Kiai bertanya, “Nak, kenapa
kamu dan kawan-kawanmu sering menyebut orang lain yang berbeda pandangan dengan
kalian, dengan memberi sebutan mereka sebagai ‘Santri Google’ atau ‘Murid
Youtube’?”
Awalnya, sang
Santri cukup terkejut ditanya seperti itu. Namun, akhirnya dengan gamblang dia
menjelaskan, “Pak Yai, mereka itu jenis orang yang ngajinya hanya lewat
internet. Cukup menggoogling, atau menonton Youtube. Ilmu mereka tidak bisa
dipertanggungjawabkan. Ngaji seminggu lewat internet saja kemlinthinya minta
ampun…”
“Lho, apa
yang salah dengan mencari ilmu lewat internet?” tanya sang Kiai dengan nada sabar.
“Internet itu
kan sumbernya enggak jelas. Susah dipertanggungjawabkan.” Jawab sang Santri.
“Kan di
internet ada juga sumber-sumber yang jelas. Banyak kiai-kiai besar yang ceramah
mereka diunggah di Youtube. Ada kitab-kitab bagus yang tersimpan di dunia
maya…”
“Ya, tapi kan
mereka mengaji tidak sistematis. Tidak dari dasar. Tidak terstruktur. Tidak
seperti kita di pondok pesantren yang butuh waktu sangat lama untuk belajar
ilmu agama.”
“Siapa yang
mengharuskan seperti itu?”
“Maksud Pak
Yai?”
“siapa yang
mengharuskan orang mencari ilmu, harus di pesantren, dan lama?”
“Lho bukannya
memang begitu, Pak Yai?”
“Ilmu bisa
datang dari mana saja. Pelajaran bisa muncul dari mana saja. Bahkan bisa dari
pepohonan, hewan, alam, termasuk internet.”
“Tapi mereka
gemar mengkafir-kafirkan orang lain, dan kalau diajak berdebat maunya menang
sendiri. Dalil-dalil yang dipakai juga tidak jelas.”
“Apakah semua
bagitu?”
“Ya tidak,
Pak Yai…”
“Kalau tidak,
kenapa kalian menyebut mereka semua seakan sama? Seakan kalau belajar lewat
internet itu keliru, lewat youtube itu salah?”
Si santri
diam sejenak sedang berusaha memikirkan jawaban. Namun, sang Kiai melanjutkan
omongannya. “Dan sejak kapan seorang santri diajari untuk merasa begitu tinggi
ilmunya hanya karena belajar lebih lama? Kalau Tuhan mau, beliau bisa turunkan
ilmu apa saja kepada siapa saja, dalam waktu yang sangat singkat. Bahkan kalau
perlu tidak perlu belajar. Suka-suka Tuhan.”
“Tapi mereka
sombong sekali, Pak Yai…” suara si Santri agak lirih.
“Bukankah
kamu dian-diam juga sombong dengan memberi cap seperti itu kepada mereka?”
Si Santri
diam lagi. Kemudian dia berkata, “Jumlah mereka makin banyak dan suka
mengkafir-kafirkan orang lain, Pak Yai…”
“Bukankah
orang yang suka mengkafir-kafirkan orang lain juga banyak yang dari pondok
pesantren, bahkan kemudian kuliah di Universitas Islam yang sangat terkenal di
penjuru dunia?”
“Iya juga sih,
Pak Yai…”
“Terus kalau
Google, Youtube, dan medsos tidak boleh dipakai sebagai media mencari ilmu,
bukankah isinya malah makin banyak hal buruk?”
Si santri
terdiam. Sebetulnya dia masih ingin membantah, teapi dia mulai kehabisam
kata-kata.
“Nak, orang
seperti aku ini juga selalu butuh mencari ilmu. Karena merasa kurang terus. Merasa
bodoh terus…
“kadang aku
sawon ke kiai-kiai lebih sepuh dan senior untuk mengaji. Kadang aku bertanya ke
pedagang dan petani. Kadang juga aku bertanya ke santri-santiku sendiri. Tidak semua
hal aku dalami dan aku mengerti…”
“Aku sering
bertanya juga ke Google, termasuk sering mengaji lewat Youtube. Mengaji lewat
Youtube itu ada bagusnya. Bisa diulang berkali-kali sampai kita paham. Satu tema
kita bisa mencari dari berabagai versi para ulama…
“Jadi
berhentilah menyalahkan alat dan cara mencari ilmu. Kalau ada hal yang kurang
baik di diri mereka, persoalannya bukan karena Google, Youtube, atau media
sosial. Perseolannya ada pada mental mereka.”
Si santri
tambah diam. Kali ini dia mulai kehabisan argumen.
“Setelah kamu
tahu aku juga saring ngaji lewat internet, kamu terus mau memanggil aku: Kiai
Google?” tanya sang Kiai sambil mengulum senyum.
“Ya tidak, Pak
Yai…”
“Ya sudah. Sekarang
kita makan dulu. Aku masak sayur ikan kepala manyung dengan sambal terasi
kesukaanmu…?”
Mereka kemudian
makan lahap sekali. Usai makan si Santri mengunggah foto dirinya yang sedang
makan Bersama sang Kiai di dinding Facebooknya.
SANG KIAI HANYA TERSENYUM.
Sumber: Buku
dengan Judul “KELAKUAN ORANG KAYA”,MOJOK

0 Comments