Misteri Soliter


“aku setuju bahwa itu misteri. Ada lima milyar orang yang hidup di planet ini, tapi kau jatuh cinta pada satu orang tertentu dan kau tidak akan menukarnya dengan yang lain”


Oleh: Kety Bato'sau' (ig: kety_batosau)

Judul Buku  : Miseri Soliter
Penulis : Joisten Gaarder

Joisten Gaarder dalam karyanya kali ini bercerita tentang seorang anak laki-laki berusia 12 tahun yang bernama Hans Thomas. Ia dan Pa(ayahnya) melakukan perjalanan dari Arendal menuju Athena untuk mencari sang ibu yang pergi untuk mencari jati dirinya dan meninggalkan Pa dan Hans Thomas 8 tahun yang lalu. Dalam perjalanan panjangnya, banyak hal-hal aneh yang ditemui oleh Hans Thomas yang entah hanya sebuah kebetulan atau memang takdir, entah bagaimana cerita yang satu dapat berhubungan dengan cerita lainnya. Mulai dari ketika mereka bertemu dengan seorang kurcaci yang mengarahkan mereka untuk menuju Dorf dan memberikan sebuah kaca pembesar kepada Hans Thomas, Ia hanya melihatinya dan tak mengerti untuk apa kaca pembesar tersebut. Setibanya mereka di Dorf, Hans Thomas berkeliling dan akhirnya ia mengunjungi sebuah toko roti. Disana iya melihat seekor ikan koi yg berada di dalam sebuah akuarium kecil yang sangat indah ketika airnya terkena paparan sinar matahari, Ia juga bertemu dengan seorang kakek tua (si tukang roti) yang kemudian memberinya empat potong roti kadet. Sang kakek berpesan bahwa Hans dapat membagi 3 roti kepada Pa, namun roti kadet terakhir harus Ia makan sendiri dan merahasiakannya dari siapapun. Tak disangka di dalam roti kadet tersebut ada sebuah buku kecil dengan tulisan yang sangat kecil pula, disitulah Hans menyadari fungsi dari kaca pembesar yang diberikan kepadanya itu. Disepanjang perjalanan Hans Thomas selalu membaca buku tersebut dengan diam-diam. 

Di dalam buku tersebut diceritakan tentang seorang pelaut yang terdampar di sebuah pulau yang sepi dan tidak berpenghuni. Hingga suatu saat si pelaut berhasil menciptakan teman-teman khayalannya yang muncul dari kartu remi yang di bawahnya. Mereka adalah Wajik, Keriting, Sekop, hati dan Joker. Dan pertanyaannya “mungkinkah mereka muncul begitu saja dari tiada menjadi ada?”. Hal ini seolah mengajak kita untuk berfikir tentang filsafat idealisme dimana realitas dibangun dari cara kita berpikir mengenainya.


Semua yang ada di pulau tersebut memang ajaib, misterius dan menakjubkan. Para kurcaci dengan sifat dan ciri mereka masiang-masing, kegiatan sehari-hari bahkan kehidupannya namun tak pernah berpikir atau bertanya, dari mana sesungguhnya mereka berasal? Tak ada yang bertanya kecuali Joker. Mereka tak pernah bertanya tentang diri mereka yang sesungguhnya misterius dan ajaib, karena telah demikian terbiasa dengan diri mereka dan alam sekitar. Berbeda dengan Joker yang meskipun Ia tak termasuk dalam kelompok Sekop, Keriting, Hati, maupun Wajik, tapi Ia mampu masuk ke semuanya. Sifatnya yang cerewet, selalu ingin tahu, curiga, dan selalu bertanya ini dan itu. Ia juga sering disebut “si tolol” atau “si bodoh”, padahal sesungguhnya ia satu-satunya yang tak bodoh diantara kurcaci-kurcaci lainnya. Joker justru tahu terlalu banyak dan terlalu dalam.


Tak kalah menarik dari pulau ajaib ini adalah sistem kalendernya yang berdasarkan jumlah kartu remi pula, yaitu 52 dengan 4 kelompok yaitu Sekop, Keriting, Wajik, Hati yang mewakili 4 musim. 1 tahun = 52 minggu (sebanyak jumlah kartu remi), kemudian 52 x 7 hari = 364 hari, plus 1 hari Joker jadi berjumlah 365 hari (sama dengan banyaknya hari dalam setahun) sama halnya 1 tahun dengan 13 bulan (dinamai dari As, Dua, Tiga sampai Raja) jadi tiap bulan memiliki 28 hari dimana 13 x 28 hari = 364 dan 1 harinya adalah hari Joker.


Novel Misteri Soliter ini adalah sebuah novel yang sangat menarik. Ditulis dengan alur cerita yang berpindah-pindah sebab diceritrakan dalam sebuah kisah yang saling berkaitan. Butuh pemahaman yang baik agar pembaca tidak bingung dengan alur cerita dari yang satu ke cerita yang lainnya. Namun, secara umum buku ini hendak membawa kita untuk memahami filsafat metafisis . Yakni aliran filsafat yang mempertanyakan sebuah eksistensi dan realitas yang mendasarinya. Pertanyaan-pertanyaan seputar “siapa kita?, mengapa kita ada? dan untuk apa kita hidup?” merupakan pertanyaan-pertanyaan dasar yang menyelubungi filsafat ini. Begitu juga dalam buku ini, Joisten Gaarder selalu menyelipkan sebuah dialog filsafat metafisis disela-sela bab seperti potongan kalimat “dari mana makhluk-makhluk seperti kita berasal? Pernahkah kita memikirkanya? (hal : 41)”, “bagaimana mungkin ada sesuatu yang muncul begitu saja dari ketiadaan? (hal : 29)”.  Tak lupa pula menyelipkan kalimat romantis dalam percakapan seperti “aku setuju bahwa itu misteri. Ada lima milyar orang yang hidup di planet ini, tapi kau jatuh cinta pada satu orang tertentu dan kau tidak akan menukarnya dengan yang lain”.

Post a Comment

0 Comments