Ada seorang haji baru pulang dari Tanah Suci. Maka dibelinya RSS baru dari uang ONH-nya yang tersisa. Masih ada lahan di depan rumah untuk menanam satu pohon buah. Ditanaminyalah tanah itu dengan sebatang durian Bangkok yang sebenarnya berasal dari Rancamaya. Setiap hari pirirngan tanah di sekitar pohon itu disianginya dari gulma. Tumbuhanlah pohon durian itu dengan subur karena mendapatkan perhatian yang penuh pemiliknya. Tiga tahun kemudian suhu malam yang dingin di musim kemarau memicu pohon durian itu berbunga. Ada tiga bulan berubah menjadi putik dan kalbunya pun berbunga-bunga. ‘Makan durian kita sebentar lagi,’ katanya. Ia lupa menyambung harapannya itu dengan ‘Insya Allah’. Kalbunya makin berbunga-bunga lagi sewaktu putik itu sudah menjadi buah durian yang tentu saja berduri. Tibalah saatnya durian pertama masak dan siap dipetik keesokan harinya. Apa mau dikata, ketika keesok-hari itu tiba, durian itu menghilang tak tentu rimbanya. Maka dengan perasaan mendongkol ditulisnya di atas selembar kertas fotokopi berukuran kuarto peringatan yang berbunyi: ‘Hai pencuri, apakah kamu tidak sadar bahwa orang yang mencuri itu besar dosanya!’
Alangkah jengkelnya dan kecewa dia ketika mengetahui durian yang kedua pun hilang. Agaknya peringatannya itu tidak mempan. Maka dituliskannya sekali lagi peringatan di atas selembar kertas baru dengan pena penanda berwarna merah. Bunyi peringatannya sekali itu ialah: ‘Hai pencuri, walau pun aku tidak tahu siapa engkau, Tuhan Mahatahu!’ Keesokan harinya lagi ditemukannya lagi bahwa durian ketiganya pun telah hilang lenyap. Namun kertas berisi peringatan kerasnya masih ada. Di bawa peringatannya tercantum jawaban pencuri: ‘Memang Tuhan Mahatahu, tetapi tidak pernah memberitahu.’
***
Dongeng ini saya ceritakan di Padang beberapa hari yang lalu dalam suatu kelas filsafat sains sebagai pengantar memahami tugas filsafat sebagai pengetahuan untuk menemukan kebenaran. Semua mahasiswa tergelak. Demikian pula keseesokan harinya kisah itu saya ceritakan kepada khalayak yang terdiri atas kepala sekolah, guru-guru matematika, dan seorang siswa kelas tiga SMUN dari Pariman peraih hadiah pertama Lomba Penelitian Ilmiah Remaja. Lagi-lagi semua tergelak.
Lain halnya ketika cerita yang sama saya ceritakan kembali kepada sekumpulan remaja yang kebetulan berseragam pramuka setelah melaksanakan upacara bendera di lapang upacara di suatu kota kecamatan terpencil di tepi pantai kabupaten Mandailing-Natal (Madina). Mereka tidak tergelak dan agaknya tidak merasakan dimana inti persoalan yang mereka hadapi. Walaupun durian adalah buah yang sangat populer baik di Sumatra Barat maupun di Madina. Ketika dongen yang sama saya ceritakan kembali kepada kira-kira limaratus orang siswa SMUN di ibukota kabupaten Madina yang baru saja melaksanakan upacara bendera, alangkah senangnya saya karena mereka semuanya tergelak juga.
Cerita itu saya ulangi menceritakan kepada berbagai khalayak tadi sebagai alat pengukur pemahaman mereka tentang hakikat menemukan pengetahuan. Mahasiswa pascasarjana saya perkirakan mutlak harus dapat menangkap inti kelucuan carita tadi karena di dalam kedudukannya sebagai mahasiswa tugasnya adalah berlatih menjadi penemu pengetahuan yang benar. Guru dan siswa sekolah menengah juga mampu menangkap kelucuan cerita tadi asal proses penyampaian pelajaran di sekolah tadi benar-benar dilakukan metode penemuan dan pemecahan masalah (method of inquiry and problem-solving)
Kalau guru menyampaikan pelajaran sains kepada muridnya tidak menggunakan metode penemuan melainkan menggunakan metode menghafal, besar sekali kemungkinannya bahwa murid tidak dapat menemukan apa sebenarnya yang lucu dari cerita tadi. Mengapa murid menghafal dan bukannya memahami pelajaran mungkin dapat dicari jawabannya dari ketidaksiapan guru menerapkan metode mengajar melalui metode penemuan, dan atau ketidaksiapan murid memahami guru menerapkan metode mengajar melalui metode penemuan, dan atau ketidakpastian murid memahami pelajaran menggunakan metode penemuan. Namun buku-ajar yang digunakan untuk kedua kasus itu sama saja, ditulis atas dasar kurikulum sekolah menengah serta silabus yang sudah digunakan secara nasional.
Mungkin sekali pengalaman di atas dapat digunakan sebagai alasan untuk mempertimbangkan adanya revisi buku ajar. Hal seperti itu misalnya pernah terjadi pada tahun 1963 sewaktu Biological Sciences Curriculum Studies (BCSC) yang berpusat di Colorodo memasyarakatkan kurikulum baru pengajaran Biologi modern di sekolah menggunakan metode penemuan. Ada tiga versi yang dikeluarkan, yaitu versi hijau, versi kuning, dan versi biru. Ketiga versi menggunakan pendekatan metode penemuan dan pemecahan masalah. Namun versi hijau mendekatinya dari segi biologi lingkungan kehidupan, versi kuning dari segi pendekatan biologi sel dan versi biru dari segi pendekatan biologi populasi.
Ketika yayasan studi kurikulum biologi di Bogor pada tahun 1966 memutuskan mengadaptasi buku-ajar biologi itu, diputuskan untuk memilih versi hijau sebagai kerangka acuan. Versi ini lebih mudah mengajarkannua dengan pendekatan metode penemuan dan pemecahan masalah, karena tidak memerlukan laboratorium utamanya. Sewaktu yayasan Pendidikan Biologi Australia yang disponsori oleh Akademi Sains Australia mengadaptasi buku-ajar itu pada awal dasawarsa tujuhpuluhan untuk keperluan Australia, panitia mengadaptasi menggabung ketiga versi itu menjadi satu. Di Amerika Serikat pada saat ini ketiga versi itu sudah digabung menjadi satu versi saja karena tingkat kemajuan SMU di semua negara bagian sudah seragam.
Tidak demikian keadaan di Indonesia. Ada perbedaan reaksi khalayak terhadap cerita tadi di ibukota kabupaten dengan yang terletak di ibukota kecamatan terpencil. Yang dimaksud dengan kota kecamatan terpencel adalah yang jarak tempuh perjalanannya ke ibukota kabupaten tidak kurang dari lima jam. Oleh karena itu perlu kiranya mempertimbangkan membuat lebih dari satu versi untuk buku-ajar dalam bidang apa saja untuk semua peringkat pendidikan dasar dan menengah. Begitu mutu semua sekolah sudah seragam, barulah versi-versi itu dapat digabungkan kembali setelah daya tangkap siswa terhadap isi pelajaran sudah mulai seragam
Dayeuhkolot, 22 September 1997
Sumber: Buku dengan Judul “Pola Induksi Serang Eksperimental”,IPB PRESS

0 Comments