Tuhan sebagai “Kata” untuk Hasrat akan Kebenaran Akhir (Part-2)


Oleh:
A.    Setyo Wibowo

(Baca juga PART-1)

“Jika pujaan dalam bentuk Tuhan mati, … manusia akan mencari pujaan-pujaan lainnya termasuk dirinya sendiri”


Kata Tuhan memang menunjuk pada Tuhan kita, ada tertinggi yang kita kunjungi dan kita jadikan pusat hidup. Bagi Nietzsche, Tuhan tersebut tentu saja menunjuk pada Tuhan kristiani yang agamanya ia kritik habis-habisan. Tetapi, lebih dari itu kata Tuhan juga sangat luas merujuk pada apa saja yang di Tuduhkan manusia. “Manusia adalah binatang pemuja”, kata Nietzsche dalam La Gaya Scienza (GS) 342. Jika pujaan dalam bentuk Tuhan mati, tak kehilangan akal, manusia akan mencari pujaan-pujaan lainnya termasuk dirinya sendiri.


Manusia butuh  pujaan, butuh sesuatu di luar dirinya untuk di jadikan pegangan. Krisis terbesar zaman Nietzsche yang disebut dekadensi adalah kebutuhan besar akan pegangan tersebut. Jika pegangan dalam bentuk Tuhan mati, tak pelak lagi pegangan dalam bentuk lain akan bermunculan: sains, ideologi, kepercayaan aneh-aneh, bahkan atheisme!”


Ada kepercayaan baru saat ini Namanya ketidakpercayaan”, ungkap Nietzsche dalam GS 347. Ya, manusia adalah binatang pemuja, kalau Tuhan pujaannya mati, kalau tidak ada pegangan lain yang cukup mantap baginya, bisa saja ia mengimani ketiadaan Tuhan dengan sepenuh hati, “Tuhan tidak ada”, demikian credo imannya. Jika ada orang yang membantahnya, ia akan matian-matian mempertahankan tempat ia berpijak tersebut. Apa jadinya manusia tanpa pegangan? Di mana Utara dan Selatan? Tanpa graviasi, bukan kita akan melayang tanpa arah? Bukankah tanpa matahari malam kita akan menjadi semakin kelam?


Manusia yang kehilangan pegangan adalah manusia yang limbung, resah, terporosok dalam kekosongan (GS 125).

***BERSAMBUNG***

Sumber: Disadur dari buku dengan Judul “Para Pembunuh Tuhan”,Penerbit PT Kanisius


Post a Comment

0 Comments