Tuhan sebagai “Kata” untuk Hasrat akan Kebenaran Akhir (Part-3)


Oleh:
A.    Setyo Wibowo

“…jika pegangan Kebenaran Akhir itu luluh lantak dan mati? Nihilisme! Manusia masuk dalam keresahan dan kebingungan”



Bukankah sains berguna bagi kemajuan manusia? Tak diragukan lagi. Bukankah ideologi orde baru telah memakmurkan secara relatif rakyat untuk 25 tahun? Secara relatif  iya. Bukankah agama terbukti membawa manusia ke sikap hidup yang lebih beradab? Tidak ada yang menyangkal. Agama, ideologi, sains, atau apa pun kepercayaan selalu terbukti berguna bagi kehidupan manusia. Namun, persis  di situ masalahnya. Pertama, pada level kegunaan ini semuanya relatif. Jawaban positif yang diberikan di atas bisa dibantah dengan banyak pendapat lainnya. Sains berguna tapi juga cost-nya terlalu tinggi untuk kehidupan kita. Sedangkan, orde baru hanyalah membuatkan istana di atas pasir yan sekarang tidak ada bekasnya kecuali utang yang tidak masuk akal dan mental korupsi yang terlanjur sistemik. Agama? Meski sangat berguna, korban yang berjatuhan akibat konflik di Maluku, di Timur Tengah atau di berbagai aksi pemboman manunjukkan logika gelap agama yang justru memurukkan level peradaban manusia. Kedua, dengan demikian jelas bahwa kegunaan (utilitarisme) itu sendiri tidak bisa menjadi argument kokoh untuk membuktikan bahwa agama, sains, atau teknologi sah keberadaanya. Dan memang, agama sendiri sejauh dinilai secara utlitaris tentu tidak akan disuka. Sains juga dihayati sepenuh hati oleh para pengikutnya bukan karena ia berguna, melainkan karena klaim-klaimnya yang serba besar.  Demikian pula dengan ideologi. Jika ideologi hanya berasaskan kegunaan, buat apa para pembela Megawati dulu berani mati mempertahankan kantornya? Jika hanya soal  kegunaan, sudah barang tentu mereka harusnya marah karena sekarang di-sebratke begitu saja. Tidak, mereka tidak mutung, dan masih bertahan. Ada sesuatu yang dalam- di bawah kata ideologi- yang membuat mereka berani mati.


Semua itu mewakili orientasi hidup, arah hidup, tujuan hidup, sebuah way of life yang ultimate sifatnya. Ada kebenaran akhir di sana. Ada sesuatu yang derajatnya mirip Tuhan sehingga kaun sainstifik dan pengikutideologi tersebut rela menjadi “martir kebenaran”. Itulah yang dinamai Akhir Segala Akhir, sebab dan tujuan. Akhir, yang menjadi sangkang paraning, baik bagi kaum saintifik, pengikut ideologi, maupun penganut agama. Pada tingkat ini, agama, atheisme, sains, dan ideologi memiliki mekanisme yang sama: mereka adalah ekspresi untuk kebutuhan manusia akan pegangan, kebutuhan manusia untuk percaya, kebutuhan manusia akan pujaan (bdk. GS 346 dan 347).

Apa jadinya jika pegangan Kebenaran Akhir itu luluh lantak dan mati? Nihilisme! Manusia masuk dalam keresahan dan kebingungan. Ia menggapai dalam kegelapan untuk mencari pegangan yang sudah kosong. Hidup menjadi tanpa orientasi, tersentak, dekaden. Logika keras dan penghendakan mati-matian akan sebuah ideal mengenai Kebenaran Akhir (misalnya, Tuhan atau kebenaran saintifik) memberikan energi dan daya luar biasa untuk menggapainya. Sekaligus ia menyembunyikan aspek mematikan: di satu sisi, mematikan aspek realitas di luar mimpi tersebut (kekarasan) dan di sisi lain siap mematikan diri pengideal sendiri (kemartiran).

Mimpi fiksatif terlalu tinggi memang bisa memjerembabkan manusia terlalu dalam. Namun, bukan manusia Namanya kalau ia tidak survive. Ia akan bergulat dengannya. Dan di mata Nietzsche, situasi nihilisme yang ia analisis pasca-Kematian Tuhan akan memunculkan dua kemungkinan pergulatan: menaggapi nihilisme secara pasif dan aktif. Ciri yang pasif tampak dari pesimismenya. Ia apatis, loyo, Lelah, tersentak, bingung, dan akhirnya jatuh dalam ungkapan-ungkapan serba meratap.

Contoh steotip yang akan dicoba ditelaah di sini adalah humanisme ekstensialis Jean-Paul Satre dan disseminasi Michel Foucault. Kedua pemikir ini beranggapan bahwa pasca-Nietzsche soal kematian Tuhan adalah fakta taken for granted. Ironisnya, hal itu dilakukan dengan dua acara yang secara diametral berbeda: yang satunya percaya pada manusia yang bisa mengambil alih tugas Tuhan, satunya lagi justru melihat ketiadaan manusia (keterserakan subjek). Meski berbeda, keduanya memberi aroma yang sama pesimis.

***End***

Sumber: Disadur dari buku dengan Judul “Para Pembunuh Tuhan”,Penerbit PT Kanisius


Post a Comment

0 Comments