Oleh:
A.
Setyo
Wibowo
“…jika pegangan Kebenaran Akhir itu luluh lantak dan
mati? Nihilisme! Manusia masuk dalam keresahan dan kebingungan”
Bukankah sains
berguna bagi kemajuan manusia? Tak diragukan lagi. Bukankah ideologi orde baru
telah memakmurkan secara relatif rakyat untuk 25 tahun? Secara relatif iya. Bukankah agama terbukti membawa manusia
ke sikap hidup yang lebih beradab? Tidak ada yang menyangkal. Agama, ideologi,
sains, atau apa pun kepercayaan selalu terbukti berguna bagi kehidupan manusia. Namun, persis di situ masalahnya. Pertama, pada level kegunaan ini semuanya relatif. Jawaban positif
yang diberikan di atas bisa dibantah dengan banyak pendapat lainnya. Sains berguna
tapi juga cost-nya terlalu tinggi untuk
kehidupan kita. Sedangkan, orde baru hanyalah membuatkan istana di atas pasir
yan sekarang tidak ada bekasnya kecuali utang yang tidak masuk akal dan mental
korupsi yang terlanjur sistemik. Agama? Meski sangat berguna, korban yang
berjatuhan akibat konflik di Maluku, di Timur Tengah atau di berbagai aksi pemboman
manunjukkan logika gelap agama yang justru memurukkan level peradaban manusia. Kedua, dengan demikian jelas bahwa kegunaan (utilitarisme) itu sendiri
tidak bisa menjadi argument kokoh untuk membuktikan bahwa agama, sains, atau teknologi
sah keberadaanya. Dan memang, agama sendiri sejauh dinilai secara utlitaris
tentu tidak akan disuka. Sains juga dihayati sepenuh hati oleh para pengikutnya
bukan karena ia berguna, melainkan karena klaim-klaimnya yang serba besar. Demikian pula dengan ideologi. Jika ideologi
hanya berasaskan kegunaan, buat apa para pembela Megawati dulu berani mati
mempertahankan kantornya? Jika hanya soal
kegunaan, sudah barang tentu mereka harusnya marah karena sekarang di-sebratke begitu saja. Tidak, mereka
tidak mutung, dan masih bertahan. Ada
sesuatu yang dalam- di bawah kata ideologi- yang membuat mereka berani mati.
Semua itu
mewakili orientasi hidup, arah hidup, tujuan hidup, sebuah way of life yang ultimate sifatnya.
Ada kebenaran akhir di sana. Ada sesuatu
yang derajatnya mirip Tuhan sehingga kaun sainstifik dan pengikutideologi
tersebut rela menjadi “martir kebenaran”. Itulah yang dinamai Akhir Segala Akhir, sebab dan tujuan. Akhir,
yang menjadi sangkang paraning, baik
bagi kaum saintifik, pengikut ideologi, maupun penganut agama. Pada tingkat
ini, agama, atheisme, sains, dan ideologi memiliki mekanisme yang sama: mereka
adalah ekspresi untuk kebutuhan manusia akan pegangan, kebutuhan manusia untuk percaya, kebutuhan manusia akan pujaan (bdk.
GS 346 dan 347).
Apa jadinya
jika pegangan Kebenaran Akhir itu luluh lantak dan mati? Nihilisme! Manusia masuk
dalam keresahan dan kebingungan. Ia menggapai dalam kegelapan untuk mencari
pegangan yang sudah kosong. Hidup menjadi tanpa orientasi, tersentak, dekaden. Logika
keras dan penghendakan mati-matian akan sebuah ideal mengenai Kebenaran Akhir (misalnya,
Tuhan atau kebenaran saintifik) memberikan energi dan daya luar biasa untuk
menggapainya. Sekaligus ia menyembunyikan aspek mematikan: di satu sisi, mematikan
aspek realitas di luar mimpi tersebut (kekarasan) dan di sisi lain siap
mematikan diri pengideal sendiri (kemartiran).
Mimpi fiksatif
terlalu tinggi memang bisa memjerembabkan manusia terlalu dalam. Namun, bukan
manusia Namanya kalau ia tidak survive.
Ia akan bergulat dengannya. Dan di mata Nietzsche, situasi nihilisme yang ia
analisis pasca-Kematian Tuhan akan memunculkan dua kemungkinan pergulatan:
menaggapi nihilisme secara pasif dan aktif. Ciri yang pasif tampak dari
pesimismenya. Ia apatis, loyo, Lelah, tersentak, bingung, dan akhirnya jatuh
dalam ungkapan-ungkapan serba meratap.
Contoh steotip
yang akan dicoba ditelaah di sini adalah humanisme ekstensialis Jean-Paul Satre
dan disseminasi Michel Foucault. Kedua pemikir ini beranggapan bahwa pasca-Nietzsche
soal kematian Tuhan adalah fakta taken
for granted. Ironisnya, hal itu dilakukan dengan dua acara yang secara
diametral berbeda: yang satunya percaya pada manusia yang bisa mengambil alih
tugas Tuhan, satunya lagi justru melihat ketiadaan manusia (keterserakan subjek).
Meski berbeda, keduanya memberi aroma yang sama pesimis.
***End***
Sumber: Disadur
dari buku dengan Judul “Para Pembunuh Tuhan”,Penerbit PT Kanisius

0 Comments