![]() |
| Dokumen pribadi |
Oleh:
A. Setyo
Wibowo
Tidak ada
motif perang yang paling mengerikan selain atas nama Tuhan. Barangkali agak
berlebih-lebihan kalau mengatakan bahwa Tuhan menjadi sebab segala bencana peperangan.
Tetapi, kelebihan itu menjadi tak bermakna apa-apa manakala ada tertinggal yang
menjadi pusat aspirasi manusia pecinta damai di lapangan bisa menjadi sadis
mengerikan, baik pada bilah-bilah kapak dan badik maupun ledakan senapan
rakitan sampai bom. Namun, keberlebian-lebihan tuduhan kepada Tuhan itu bisa
dikurangi jika dengan Tuhan kita memaksudkannya “apa-apa yang dinilai paling
kudus” bagi hasrat manusia.
Setiap orang
memiliki “sesuatu paling berharga, paling kudus” yang deminya ia siap menjadi
martir. Ada logika keras dari ens
sanctissimus ini. Ia sekaligus fascinosum
(memikat) dan tremendum (membuat
gemetar). Manakalah Nietzche berbicara tentang “Tuhan-Tuhan” dalam sains, idiologi,
dan kepercayaan apa pun, aspek “membuat gemertar inilah” yang menonjol. Sebuah penghendakan mati-matian atas kebenaran
secara separo mengimplikasikan pembinasaan separo yang lain. Di tangan
Penyambung Roh Revolusi Perancis, Robespierre, lepas dari kehendak pribadinya
yang hanya menginginkan kebaikan kemurnian doktrin revolusi membuat ia mau tak
mau menggelundungkan 60-80 kepala per hari saat ia memerintah. Kehendak
mati-matian akan akan kebenaran memang mematikan. Di Indonesia ini, kebenaran
ideologis yang dikehendaki secara absolut oleh Orde Baru memakan korban ratusan
ribu.
Kebenaran
saintifik - yang di mata para penganutnya adalah satu-satunya kebenaran-
menutupi wajah seram yang lain: menghalalkan segala cara untuk mencabik-cabik
realitas. Apa yang menurut hitungan ilmiah benar, dan dipercaya dengan segala
devosi, akan meniadakan semua pertimbangan akal sehat kenyataan. Tanpa rasa
bersalah sedikit pun bahkan kebenaran ilmiah itu akan mengatakan “ini semua
demi kebaikan kenyataan itu sendiri”
***BERSAMBUNG***
Sumber: Buku
dengan Judul “Para Pembunuh Tuhan”,Penerbit PT Kanisius

0 Comments