Ibe S. Palogai
![]() |
| Koleksi Pribadi |
Saya ingi percaya bahwa waktu itu tidak ada. Bahwa waktu yang kita kenal selama ini merupakan bagian yang bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Yang ada hanya ruang. Hanya ada ruang yang kita gunakan untuk bersembunyi, bermain, berpura-pura, bersedih, bercinta, dan melakukan segalanya. Hanya ada ruang, tidak ada waktu dan saya percaya.
Di ruangan, kita tidak mengenal waktu atau kita hanya pura-pura mengenalnya. Pagi, siang dan malam merupakan istilah yang kita gunakan untuk menyebutkan terbit, terik, dan terbenamnya matahari. Bukan waktu dan tidak menunjukkan waktu. Itu adalah perubahan.
Begitu saja mitos yang dibangun dari rangkaian kejadian tersebut. Apakah yang mengubah sesuatu, atau kejadian tersebut. Apakah yang mengubah sesuatu, atau sesuatu itu berubah karena diri sendiri?
Dahulu kala, ketika melihat matahari, manusia percaya bahwa itu adalah dewa. Ketika matahari terbenam dan mereka melihat bulan, manusia percaya bahwa itu juga dewa. Hanya ada ruang, tidak ada waktu.
Mungkin penjelasan ini kurang mendasar, kesimpulannya tidak jelas, dan terkesan mengadakan sesuatu yang tidak ada. Seperti halnya hanya saya, boleh dipercaya atau tidak.
Tapi coba simak kalimat ini: bunga mekar pada pagi hari dan layu pada malam hari. Ada pagi dan malam yang menunjukkan waktu. Bagaimana jika kalimat itu diubah menjadi begini: ketika matahari terbit, bunga mekar, dan ketika matahri terbenam, ia layu. Pada kalimat itu tidak ada waktu, hanya ada perubahan. Hanya ada ruang tempat sesuatu dapat berubah di dalamnya.
Sekali lagi, tentang tidak adanya waktu, boleh percaya atau tidak. Tidak ada paksaan untuk percaya, dan agar adil, mari kita menyebut ini sebagai mitos. Mitos tentang kekosongan waktu dan abadinya perubahan
* * *
Pada tahun-tahun awal sebagai mahasiswa, saya mulai senang menghabiskan waktu menonton film. Sebagai manusia yang lahir belakangan dalm perbandingan generasi, saya merasa banyak film keren yang telewatkan.
Bukan berarati film pada generasi saya buruk. Tapi kalanya seseorang merasa bahwa film klasik lebih baik daripada film yang beredar saat ini. Semacam menemukan gambar Soeharto tersenyum disertai tulisan, “Bagaimana kabarmu, Nak? Enak zamanku, toh?”
Saya misalnya, menonton film trilogi Before-Before Sunrise (1995), Before Sunset (2014), dan Before Midnight (2013). Film ini seperti menertawai kita dengan segala kekonyolan masa lalu dan harapan akan masa depan yang tak pasti.
Setelah mengulang film tersebut, saya mulai meragukan waktu. Ketika melihat diri sendiri dalam Before Sunrise dengan bingkai Before Midnight, ada banyak hal yang berubah. Sungguh, banyak hal yang berubah. Bukan hanya bentuk fisik, tapi juga pemikiran dan cara mencintai sesuatu akan berubah. Yah, hanya ada ruang, tidak ada waktu, dan abadi adalah sesuatu yang terus berubah. Berubah terus!
Saya tidak perlu menyesali jika ketidakpercayaan terhadap waktu akan membawa kita menjadi seorang pemalas. Setelah ragu akan waktu, saya merasa, “Dengan percaya bahwa waktu itu ada, hidup akan terus dilingkupi tingkah pura-pura.”
Lebih kejam lagi, dengan percaya terhadap waktu, seseorang dapat menuntut kita menjadi seorang yang ambisius serta mengajarkan sesuatu yang abadi. Seseuatu yang mungkin kita dapatkan setelah menggadaikan hal paling berharga dalam hidup ini: kebenaran!
* * *
Bila benar tidak ada waktu, saya akan belajar memahami uban pada kepala manusia, haid, gugurnya daun dari ranting, dan mengapa mereka yang saling mencintai bisa jadi saling membenci. Ya, kekosongan waktu dan abadinya perubahan.
Ketika dewasa, saya tidak bisa membedakan mana senyum bahagia dan mana yang sedih. Keduanya nyaris sama. Itu yang membuat saya jatuh cinta kepada anak kecil. Dari wajahnya, saya tidak mengenal kebohongan. Tapi ada kesedihan setiap membayangkan mereka tumbuh dewasa dan harus hidup dalam kepura-puraan, sepeti kita.
Pada akhirnya, seperti menonton ulang film Before Sunset, kita akan kembali bertanya: benarkah tidak ada waktu? Atau, mungkinkah waktu memiliki ketaksaan? Untuk menjawabnya, saya meminjamkan kalimat Jesse Wallace, tokoh lelaki utama dalam film trilogi Before: “Menjawab bisa mengacaukan segalanya.”
Tapi pesan mendiang Albert Einstein adalah jika tidak percaya terhadap misteri, pada dasarnya kau telah mati. Jadi, biarkanlah waktu menjadi misteri.
Dimuat diterasi Koran Tempo Makassar, 06 Agustus 2015
Sumber: Telinga Palsu, Penerbit: Nala Cipta Literasi

0 Comments