HANYUT DALAM PURNAMA

Sumber gambar: emilwe.wordpress.com/2012/04/26/

Radiah Annisa N.



Kautahu? Aku termasuk perempuan yang sulit jatuh cinta. Bahkan berbicara dengan lelaki pun sangat jarang



Sekali lagi malam bulan pertengahan. Kepeluk erat kedua lututku guna mendapat sedikit rasa hangat. Aku duduk di antara air dan angin yang sudah bersahabat dengan sepuluh tahun terakhir. Serasa ada kekuatan gaib yang menarik raga dan hatiku untuk masih selalu setia labuhkan perasaan yang menggelayut tak pasti. Untuk kesekian kalinya aku ke sini, di pesona bibir pantai. Tepat ketika bulan sudah sempurnah. Dalam purnama.

Jika ditanyakan, dalam sepuluh tahun ada berapa kali purnama? Sebanyak itulah penantian rinduku. Bahkan lebih. Aku merindukanmu. Tak berlebihan jika aku berkata tak pernah lagi rasakan aroma mentari. Hariku hanyalah bait malam di bulan purnama. Pikiranku hanya tertuju padamu. Anganku melayang bersama debu malam. Malam ini, aku hanya ingin melihat kejora itu berpijar lagi di matamu. Pelangi itu membias senyummu. Jemari suteramu sekat laraku. Bibirmu ucap merdu namaku. Kuingin kauingat dan tepati semua janjimu merpatimu.

Kutatap sayup langit kosong malam ini. Tak ada lagi bintang. Hanya ada purnama, sendiri, seperti aku. Seperti malangnya nasibku. Tak terasa kristal kecil membanjiri pipiku,menjelma sungai-sungai kecil bermutiara di hati yang sudah teramat rindu.

Kubuka satu per satu album kisah kita. Kupejamkan mata sembabku, melipat leher yang sudah tak kuasa mengangkat beratnya memori luka lara di kepalaku. Aku masih duduk sendiri memeluk lutut masih terngiang pesona senyum manis permata jumpa kita, hingga senyum kepedihan akhir pertemuan kita. Kuingat rangkaian cerita yang telah terbingkai di seluruh desah napasku, dan waktu pun berjalan ke belakang.

“ZAHRAHH?”

“Hem? Aku masih tertunduk. Panggilan laki-laki asing yang tiba-tiba muncul di hadapanku ketika kududuk sendiri di dermaga dekat sekolah, tak terlalu kuhiraukan

“Namamu Zahrah, kan? Dia kembali bertanya tanpa kurespon lagi.

“Hem, baiklah akan kujelaskan, aku menemukan dompetmu di…,” belum selesai dia berbicara langsung kupotong kalimatnya.

“Mataku berbinar, ekspresiku berlebihan, kusambar semua kata, “Betulkah?” Mana? Di mana dompetku? Anda temukan di mana? Dua hari ini aku tak bisa tidur karena memikirkannya, terima kasih banyak, ayo berikan padaku sekarang!”

“Ini dompetmu, Zahrah.” Kuraih dompet merahku. Kutatap wajahnya, ada lesung bersarang di pipinya, senyumnya manis sekali. Aku jadi malu sendiri.

“Anda tahu, hari ini anda sudah menyelamatkan hidupku dan hidup keluargaku? Sepulang dari bank dua hari lalu aku kehilangan dompet ini. Dompet yang menopang hidup keluargaku,” jelasku padanya tanpa ditanya, sambil membuka dompet memastikan masih utuh tidaknya beberapa lipatan uang di dalamnya.

Dia masih tersenyum manis melihat tingkahku, “Lain kali hati-hati, Zahrah!”

Semenjak peristiwa jumpa kita, aku selalu memikirkanmu. Orang pasti menganggapku berlebihan, tetapi aku tak peduli itu. Kautahu? Aku termasuk perempuan yang sulit jatuh cinta. Bahkan berbicara dengan lelaki pun sangat jarang. Tetapi denganmu semua terasa berbeda. Kaupunya sesuatu, entah itu apa? Yang jelas ketika ada dirimu ada rasa nyaman, tak ingin berpisah. Matahari terasa sejuk, angin berhembus pelan, waktu terasa berhenti dan berbagai peristiwa terjadi hanya bersamamu. Seperti dalam sinetron.

Tak kusangka kau pun merasakan hal yang sama. Dan, singkat cerita, kita pun menjalin asmara. Hari-hari bersamamu adalah sebuah keajaiban, keajaiban yang nyata, kau guru cerita cintaku. Aku bahagia. Sungguh, sangat.

Kuingat senyum kepedihan akhir pertemuan kita. Berbaring di atas pasir putih, menatap langit malam. Di bawah purnama terakhir, bersamamu. Pedih rasanya.

“Zahrahh!”
“Ya?”
“sudah tiga tahun, yah?”
“Iya,” jawabku mantap berharap mala mini kau mengikat jari manisku dengan sebuah cincin.
“Bagaimana jika suatu hari aku pergi, tak kembali.”
“Kenapa berkata begitu?” mataku mulai berkaca-kaca, hampir tumpah.
“Hahaha, tidak, aku hanya berandai-andai.”
“Jangan tertawa, itu tidak lucu! Aku tak pernah memikirkan kita berpisah, dan aku tak mau memikirkannya.” Air mata sudah tumpah di pipi merahku.

“Zahrahh, percayalah, aku tak akan meniggalkanmu.” Kemudian kaupegang pundakku erat, menatap mataku dalam, dan keterisak di dadamu. Di bawah purnama putih, di bibir pantai yang sunyi.
“Zahrahh, malam ini aku akan pergi, jangan khawatir, hanya sementara. Aku akan ke Batam, ada masalah keluarga yang ingin kuselesaikan sekaligus mengumpulkan rupiah untukmu, untuk kita. Tunggu aku satu tahun, aku akan datang ke orang tuamu.”

“Aku akan menunggumu, satu tahun tak menjadi masalah bagiku. Untukmu aku tak keberatan menunggu lebih lama lagi. Yang penting, akhirnya nanti kita terus bersama,” dadaku sesak mengatakannya.
“aku berjanji padamu, satu tahun lagi kita bertemu di sini. Di bawah purnama itu, jangan pernah menangis lagi. Sampai jumpa Zahrah, jangan terlalu merindukanku!” kauberanjak dan berlalu di hadapanku dengan langkah satu-satu.

Hari itu, usiaku masih ranum-ranumnya. Banyak pemuda yang datang menawarkan janji suci. Tetapi aku menolaj, itu semua karenamu, aku menunggu. Kini, ibu selalu memaksaku menerima lamaran Pak Sugito, duda beranak tiga, lelaki satu-satunya yang masih bertahan melamarku. Setelah semua lelaki sudah menyerah untukku. Aku rela merestui dua adik perempuan dan satu adik laki-lakiku mendahului ke pelaminan. Semuanya karena kau. Tak berkurang sedikit pun rasa cintaku padamu, meski kau hanya menawarkan janji di bawah purnama.

Hari berlalu, semua musim telah kulewati. Mataku sudah Lelah menangis. Tetapi aku akan tetap di sini, setiap purnama nampakkan diri. Kautahu? Selalu kutulis selembar surat untukmu di seberang sana.

Aku ada di sini, di bawah purnama, seperti janji kita dulu, datanglah! Jika tidak mala mini, aku akan kembali di purnama berikutnya, sampai kau ada di sini, dam kita bahagia.

Zahrahh

Kugulung surat itu, kumasukkan dalam botol, berharap kau akan membacanya dan kembali ke sini. Tetapi, sepuluh tahun sudah, hasilnya nihil.

Keluargaku kini menganggapku tak waras lagi. Katanya aku suka berbicara sendiri, kadang menangis, kemudian tiba-tiba tertawa bahkan marah tanpa sebab. Tak ada yang mengenalmu di sini. Mereka bilang kau lelaki imajinasiku. Tentu bohong, bukan?

Pulanglah! Kumohon, akan kubuktikan pada semua orang bahwa kau bena ada, tak seperti yang mereka katakan.

Tubuh rentaku semakin Lelah, tetapi hatiku selalu membara. Kududuk sendiri di bibir pantai beralas pasir putih, berharap langit gelap, bercahaya purnama. Tegakah kaumelihatku seperti ini? Menantimu entah kapan.

“Huk…huk…huk…!” kusekap mulutku sendiri menahan batuk yang tak tertahankan. Kukerutkan dahiku, ada darah kental menempel di telapak tanganku. Dadaku berkecambuk, tiba-tiba kepalaku pusing, napasku Tarik-menarik, pandanganku kabur. Lalu, semua lenyap.

“Zahrah…Ibu mohon bangun, nak! Jangan buat Ibu cemas, buka matamu, ucapkan sesuatu pada Ibu! Ibu berjanji tak akan memaksamu menikah lagi, tunggulah laki-laki itu.” Ibu menciumku. Air matanya menetes di wajahku.

“Purnama….purnama…” aku berbicara terbata-bata.
“Zahrah, kau sudah sadar, nak? Terima kasih, ya Allah!”
“Ibu, sudah berapa lama aku di sini?”
“Tak usah kaupikirkan, nak! Yang penting kau sudah sadar.”
“Sebulan, Zahrah.”

Pikiranku melayang, teringat terakhir kali purnama. Purnama selanjutnya sudah datang. Sekarang, yang kupikir hanyalah pergi ke bibir pantai di bawah bulan purnama. Aku pu bangun dari ranjang, mencabut infus yang tertancap di pergelangan. Memaksa ragaku yang lemah mengikuti kemauan batinku yang kuat. Ibu menghalangiku pergi, menahan untuk tetap berada di sini. Aku berontak, mendorong ibu yang berlinang air mata melihat perawannya lari entah ke mana di waktu yang menunjukkan lewat tengah malam.

Kupaksa kakiku berlari meski berkali-kali terjatuh. Berlari terpongah melewati pasir putih tanpa alas kaki. Kutengadahkan kepalaku melihat langit malam. Menyusuri setiap sudut. Air mataku kian deras tak tertahankan.

“Manaaaa…purnamaaa…?”

Aku tersungkur, kurapatkan semua anggota sujudku di atas pasir, air mataku mengucur deras membuat genangan di pasir putih. Tiba-tiba, kurasakan setiap desahan ombak melambai ke arahku, seakan memanggilku. Kubangkit dari sujud. Ada secercah  senyum membias wajahku. Kulangkahkan kakiku satu demi satu. Tertawa terbahak sambil meneteskan air mata yang tak kunjung reda.

Dan air laut sudah sampai dadaku, masih terus ku langkahkan kakiku, berharap di langkah berikut bertemu kau. Jika tak bertemu di langkah pertama, kedua, ketiga, sepuluh, dua puluh, lima puluh, serratus, dua ratus, akan kutelusuri langkah selanjutnya. Hingga benar-benar berjumpah.

Tiba-tiba dadaku berdebar, kurasakan jemarimu menyentuhku, menarik tanganku, meuju sudut laut di seberang sana. Penantianku terjawab sudah. Di langit malam, sng purnama tertutup awan hitam tebal, dan air bah dari langit jatuh mengiringi kepergianku. Hanyutlah kita dalam purnama. Sekarang, bahagiakah aku?

***

Sumber: diketik langsung dari Buku berjudul “Menunggu Bulan”/Penerbit Buku Shofia, 2013

Post a Comment

2 Comments