Oleh:
Pepih Nugraha
Buat apa
membangun website atau blog? Sekarang era portal web. Jika pernah buat website,
berarti bisa buat portal. Kalau pengin membangun
portal, bisa mendapatkannya gratis menggunakan open source, salah satunya
eNdonesia, “kata Nurcholis, webmaster sekaligus tukang las, bahkan juga tukang
batu.
Ketika
internet baru booming, kaehlian
membangun situs web merupakan aset mahal. Berlomba-lomba webmaster mengajukan
proyek situs web berharga ratusan juta hingga miliaran rupiah. Biaya mahal
inilah momok bagi perusahaan yang ingin memiliki situs web.
Namun, selalu
ada orang yang bekerja tak semata untuk uang. Di belahan dunia ini banyak
webmaster berkarya sukarela tanpa digaji. Mereka terhimpun dalam proyek open source bidang perangkat lunak
Content Management System (CMS) atau portal website interaktif. Dibutuhkan
ribuan file dan jutaan baris pemograman PHP yang disusun tak hanya semalam,
tetapi bertahun-tahun. Namun, perangkat lunak itu lalu dibagi gratis.
CMS berbaris
PHP pertama adalah Php-Nuke. Diikuti kemudian PostNuke, Drupal, Mambo, Joomla,
phpWesite, Geeklog, Dragonfly, phpWCMS, Siteframe, TYO3, Xoops, dan
banyak lagi yang biasanya dibangun orang asing.
Kiprah Indonesia?
Ternyata ada
juga yang membangun CMS, Namanya eNdonesia dengan alamat utama di
endonesia.org, ada juga di endonesia.com, endonesia.net, endonesia.biz, dan
endonesia.info.
Kenapa
eNdonesia dan bukan Indonesia?
“Karena kita susah
bilang Indonesia,” begitu Nurcholis (40), pendiri eNdonesia, saat dikunjungi di
rumahnya di Kawasan Jatiwaringin, Jakarta Timur.
Nurcholis tak
memiliki latar belakang Pendidikan pemograman. Anak tentara kelahiran Pontianak,
15 Oktober 1967, ini kuliah pada Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu
Komunikasi Universitas Padjajaran (Bandung) angkatan 1985. Ia merupakan
angkatan pertama pada jurusan yang baru dibuka itu.
Ketika masih
kuliah, ketika masih kuliah, ketika teman-temannya banyak yang belum tahu komputer,
dia sudah mengenal internet. Ketika teman-temanya mengenal program pengolah
kata WS, dia sudah memesan domain dan asyik dengan dunia Online.
“Saya hanya
membaca-baca buku saja, tidak pernah kursus,” kata Nurcholis. Pemrograman
Bahasa PHP dia pelajari otodidak. Bagi kebanyakan webmaster, PHP terlalu rumit
dibandingkan dengan HTML, tetapi Nurcholis jurstru menikmatinya.
Membeli domain
Tahun 1998,
ketka menjadi wartawan Republika, dia
membeli domain labalaba.com. “Waktu itu harganya masih mahal 70 dollar AS untuk
dua tahun,” katanya. Di labalaba.com itu di-install
direktoriweb.
Tahun 2001
Nurcholis berhenti sebagai wartawan dan mulai memikirkan membangun portal
berita online. Modalnya? Februari 2002 Nurcholis menjual labalaba.com dan laku
200 juta. Fantastis untuk harga domain Indonesia. Penjualan tepat waktu karena
April 2002 booming internet berakhir, dan banyak perusahaan dotcom redup.
Ia lalu membuat
portal yang diberi nama eNdonesia. Kata “e” mengacu pada electronic atau
e-commerce, layaknya e-mail, e-banking, e-strore, dan lain-lain.
Setelah mencari
sana-sini perangkat lunak portal yang cocok, Nurcholis menemukan phpWebsite. Perangkat
lunak itu dirasa tak sesuai dengan selera Nurcholis.
Dia kemudian
keluar dari phpWebsite dan mendirikan perangkat lunak dengan bran baru,
eNdonesia versi 8.1. kini eNdonesia memasuki versi 8.4. menurut Nurcholis, eNdonesia
dibangun dengan taksonomi (sesuai keahlian sebagai pustakawan) yang cocok untuk
penerbit.
eNdonesia
merupakan perangkat lunak portal interaktif gratis pertama kali didirikan orang
Indonesia. Jumlah unique visitor (pegunjung unik) eNdonesia.com mencapai 4.500
per hari, belum pengunjung lain di eNdonesia.net, eNdonesia.org, eNdonesia.info,
dan eNdonesia.biz.
Biasanya,
setiap proyek CMS selalu mencantumkan link donasi untuk membantu membiayai
proyek tersebut, tetapi Nurcholis tak melakukannya. “Saya sudah dapat uang dari
penjualan labalaba.com. uang itu saya gunakan sebagai dana abadi untuk
membiayai eNdonesia,” katanya.
Pribadi Unik
Pergulatannya
dengan buku membuat hampir semua nilai mata kuliahnya A. saat mahasiswa umumnya
mengoleksi kaset dan menghiasi kamar dengan seperangkat system audio, Nurcholis
memenuhi kamar indekos dengan deretan buku. Buku-buku lawas itu sampai sekarang
masih menghiasi kamar kerjanya.
Nurcholis menyelesaikan
semua kewajiban perkuliahan dalam waktu tujuh semester atau sekitar 3,5 tahun. Uniknya,
ia tidak segera meyelesaikan skripsi. Ia menjadi wartawan harian Mandala, Bandung, dan baru menyelesaikan
skripsi saat tepat berakhir alias terancam drop
out.
Sebelum menjadi
wartawan Berita Buana dan Republika di
Jakarta, Nurcholis pernah menerima tawaran membuat indeks sebuah majalah bulanan
terbitan Jakarta. Majalah itu ingin mengindeks mulai terbitan pertama tahun
1963 sampai 1990.
Ia menerima
tawaran itu karena relative tak ada mahasiswa yang mengenal program CDSISIS,
program untuk mengindeks. Selain itu ia juga punya komputer “jangkrik” pada
awak tahun 1990 itu. Dia lalu mempekerjakan teman-teman seangkatan untuk input
data menjadi sebuah indeks.
Akan tetapi,
karena tak ada perjanjian hitam di atas putih dengan pengolah majalah, tak ada
kejelasan sampai beberapa lama proses indeks selasai dan dibayar berapa. Celakanya,
ia harus membayar rekan-rekan pergi-pulang Bandung-Jakarta. Karena tak ada
kejelasan, tidak ada cara lain baginya selain menghentikan proyek indeks,
lantas menjual komputer untuk membayar “gaji” rekan-rekannya.
Dari kamar
sederhana di Jatiwaringin, yang ia sebut sebagai Gudang, Nurcholis
mengendalikan eNdonesia. Ditemani anaknya, Zhillan Zhalila (5,5) dan Armida
Aulia (6 bulan), hasil pernikhanannya dengan Indah Wulanningsih (34), Nurcholis
hidup bersahaja.
Pemasukan Nurcholis
lewat eNdonesia memang hanya dari iklan yang berafiliasi ke Google Adsense. Nilainya
tak terlalu besar, tetapi bisa digunakan menghidupi istri dan anaknya. Sebagai tambahan,
ia kini ikut bisnis kelambu malaria dengan rekan-rekannya.
Terkadang,
untuk mendukung kebutuhan hidupnya, Nurcholis menerima pekerjaan las. Di gudangnya,
selain berisi buku-buku dan computer, juga tersedia peralatan las dan menukang.
“saya baru
saja ngelas mobil lawas Cherokee.
Setelah diperbaiki terus dijual,” ujarnya.
“Dua minggu
terakhir ini saya jadi tukang batu membangun rumah, rumah sendiri sih,” kata
Nurcholis.
***
Sumber:
diketik langsung dari Buku berjudul “Menulis Sosok”/Penerbit Buku Kompas, 2013

0 Comments