![]() |
| Sumber: www.kompasiana.com/mim |
Oleh:
Puthut E.A
Diam-diam, kita punya kadar saling percaya yang besar,
yang diwariskan dari sejak manusia bisa beridiri tegak, dan karena itu mereka
mulai mengandalkan kerjasama supaya tidak punah berhadapan dengan penyakit,
keganasan alam, kelaparan, dan memenangi persaingan dengan para mamalia ganas.
Ini kisah
klasik yang mungkin sudah sering anda dengar. Namun, tak ada salahnya saya
ulang, selain siapa tahu ada yang belum pernah membaca, juga karena saya suka
kisah ini.
***
Dua kerajaan
besar sedang bertempur. Masing-masing raja memimpin langsung pertempuran yang
massal, Panjang, dan meletihkan. Hingga kemudian serang kepercayaan dari salah
satu raja, diam-diam membelot. Dia menghadap raja satunya lagi untuk
membocorkan informasi. Tentunya hal itu menyenangkan si Raja yang dilapori.
Setelah usai si Pembelot ini melaporkan rahasia saranya, dia bertanya ke raja
di hadapannya.
“Tuang Raja, dengan seluruh laporanku yang berharga
ini, apa yang akan tuan hadiahkan kepadaku?”
Raja itu lalu
mencabut pedangnya. “Ini hadiah untukmu,
Pedang ini akan memenggal lehermu.”
Dengan muka
pucat si Pembelot bersimpuh lali bersujud.
“Bagaimana Tuanku bisa tega memenggal orang yang telah
memberikan informasi yang sangat berguna?”
“Karena kalau kamu bisa mengkhianati rajamu, maka kamu
pun pasti bisa mengkhianatiku.”
Lalu dia
penggal leher si pengkhianat itu.
***
Pengkhianat
dalam jejak peradaban manusia termasuk perilaku yang paling tidak mendapatkan
tempat. Mungkin kalau kita telisik, salah satu mekanisme yang membuat manusia
gagal musnah dari bumi ini adalah kemampuan mereka dalam bekerja sama. Selain
tentu saja volume otak. Dan setiap kerjasama adalah proses saling mempercayai.
Kepercayaan bersebrangan dengan pengkhianatan.
Kepercayaan adalah
hal yang kemudian tumbuh menjadi sesuatu yang kemudian seakan terjadi begitu
saja. Dia jadi mekanisme yang lebih banyak bekerja di bawah sadar. Hal itu yang
memungkinkan orang keluar rumah tanpa pernah berfikir keras bahwa semua orang di
jalanan sedang berpotensi mengancam keselamatannya. Mereka percaya ketika
membeli nasi goreng tanpa harus teliti memeriksa apakah ada racun di dalam
makanan itu atau tidak. Mereka percaya bahwa tidak mungkin para sopir bis atau
truk sengaja menabrak rumah-rumah di pinggir jalan
Diam-diam,
kita punya kadar saling percaya yang besar, yang diwariskan dari sejak manusia
bisa beridiri tegak, dan karena itu mereka mulai mengandalkan kerjasama supaya
tidak punah berhadapan dengan penyakit, keganasan alam, kelaparan, dan memenangi
persaingan dengan para mamalia ganas.
Karena itu
pula, setiap orang lebih mudah merasa segera menjadi bagian yang cepat memilih
berada di pihak mana jika ada kisah pengkhianatan.
Konon, kata
teman-teman saya yang pernah di penjara, para tahanan menaruh hormat besar
kepada para pemegang teguh rahasia, panggung kesetiaan dan kepercayaan. Para
pengkhiatan berada di kasta terendah bersama dengan para pemerkosa.
Di masyakat
kita, para kriminal yang insyaf dapat cepat dimaafkan dan diberi tempat. Namun,
tak pernah ada orang yang dengan iklhas menyalami pengkhiantan yang insyaf.
“Pengkhianat kok insyaf insyaf, ya enggak
mungkin…” begitu teman saya pernah berkata sebelum belasan bogem mentahnya
mendarat di muka salah satu bekas kawanannya yang meminta ampun karena mengkhianatinya.
Di beberapa
budaya, membunuh pengkhiant itu wajib hukumannya. Karena maaf dan insyaf hanya untuk
orang-orang di luar kejinya pengkhianatan. Di tradisi mafia, tutup mulut alias
‘ometra’, diberi nilai yang sangat
tinggi.
Di dunia
pewayangan, Kumbokarna dan Wibisono, ada di dua pihak yang berbeda. Namun,
sama-sama dihormati. Karna sama bermartabatnya dengan Arjuna. Burisrawa dan
Dursasana masih dianggap kurawa yang biasa-biasa saja. Cakil hanyalah bandit
kecil yang bikin kangen
Akan tetapi
Sengkuni selalu jadi musuh siapapun. Sebab di dalam dirinya ada sifat-sifat
sebangsa ‘tumbak cucukan’ memperkeruh suasan, tukang fitnah, membesar-besarkan
masalah dan pokil. Semua itu seperti rabuk bagi tumbuhan suburnya khianat.
***
Sumber: Buku
dengan Judul “KELAKUAN ORANG KAYA”,MOJOK

0 Comments