![]() |
| RomaDecade |
23 Maret 2025 M
ku-nyalakan lilin, merangkul lutut seerat mungkin. Udara
begitu segar, sekarang musim hujan. Saya tidak lagi di tempat terpencil, tidak.
Dua tahun tepatnya saya kembali ke kota ini, dulu namanya kota. Tapi, hanya 37
orang yang tinggal di dalamnya. Ada banyak kendaraan di sekitar-ku, tapi saya
tidak bisa menggunakannya. Alat elektronik berserakan, tapi tidak dapat
dinyalakan. Malam itu saya habiskan bertatapan kosong dengan langit.
aku terbawa lamunan, masa dimana kami di dalam rumah ini,
saya dan adik berebutan makanan setiap kali ayah membawakan kami oleh-oleh dari luar kota. Entah hanya berapa banyak
dari kami yang masih hidup. Kami tidak tahu persis, berapa orang!. Semua alat
komunikasi mati seketika di akhir tahun 2020. Listrik padam, sudah tidak ada
lagi bapak-bapak yang mengantarkan bahan bakar seperti biasa. Dan banyak hal yang
seketika berhenti. Bukan karena orang mulai malas. Bukan. Memang sudah tidak
ada orang yang ingin mengerjakan. Saya sulit membayangkannya, dugaan
kami hal ini berlaku di seluruh penjuru dunia. Mengapa demikian? hari ini televisi tidak lagi bisa digunakan.
beberapa orang sempat berusaha menyalakan dengan tenaga
surya di awal tahun 2021. Namun, itu sia-sia. Tidak ada saluran yang didapatkan,
lalu kemudian tidak ada yang mau mencobanya lagi. Handphone…, kami bisa nyalakan, namun
jaringannya sudah lenyap. Komunikasi mati total, hanya orang terdekat yang kami tahu kabarnya. Barang-barang yang dulunya kami dambakan, berjuang
mengumpulkan uang untuk membelinya, hari ini hanya sebagai hiasan mata. Berserakan
dimana-mana. Ada banyak ayam, bahkan hidup liar tak bertuan. Telurnya banyak kami
temui di semak-semak dan masih masih banyak lagi hewan ternak yang hari ini tak
bertuan. Makanan banyak, tapi hanya sedikit dari kami membutuhkannya. Rasanya,
kami butuh generasi berikut untuk membangun peradaban baru, paling tidak
seperti yang kami jumpai dalam ingatan masing-masing. Trauma masih melanda
generasi ini. Beberapa orang menganggap menunggu generasi baru adalah solusi, rasa
ingin tahu-nya begitu kuat, sama seperti kami yang dahulu.
wabah virus melanda dunia saat itu, tepatnya akhir tahun
2019. Spesies manusia telah terbiasa dengan serangan wabah, bahkan beberapa
dari mereka mendapat penghargaan karena mendapatkan vaksin-nya. Namun, hal itu berbeda,
tidak berlaku untuk virus yang terakhir melanda kami. Berbagai pihak dan metode
yang telah diupayakan untuk mengendalikan virus tersebut, namun jumlah orang-orang
yang menyepelehkan virus tersebut masih lebih banyak. Butuh banyak energi memikirkan hidup orang lain yang tidak memikirkanmu. Orang-orang saat itu
tidak lagi mengikuti anjuran para pakar yang ahli dibidangnya, dokter, petugas
medis, pemerintah bahkan orang-orang yang kami jadikan perpanjangan tangan manusia suci sebelumnya. Virus itu, laku bagai monster yang tidak terlihat,
hari demi hari semakin banyak korban, hingga 80% dari pupulasi yang ada di
dunia. Kelompok-kelompok yang tersadar dengan kondisi tersebut, mengambil
langkah untuk isolasi total diri mereka di dalam rumah, ada yang ke gua-gua,
bahkan ada juga yang membuat ruang bawah tanah. Saya salah satu diantara mereka. Saya ikut, karena semua keluarga telah tiada, entah mengapa hanya saya sendiri yang tidak
terinfeksi di dalam rumah. Takdir berkata lain.
kondisinya begitu
irioni saat itu. Rasa ibah mendengar kabar kematian para ahli medis, pemerintah dan semua yang
berjuang melawan virus tidak lagi menyentuh hati. Ada banyak alasan, mulai dari
takut kelaparan melanda, hingga kredit mengejar-mengejarnya. Terlalu kompleks.
Andai saja saat
itu, semuanya sadar, mungkin….cukup 14 hari saja….
24 Maret 2020 M
tetes hujan membangunkan dari mimpi. “Cukup 14 Hari Saja”
kalimat yang tertera pada laman blog-ku. Rupanya saya tertidur dan belum
sempat menulis uraian judulnya. Sepertinya, saya harus menunda tulisan ini. Saya teringat, Saat
ini kuliah online jauh lebih penting, 5 menit lagi kami harus posisi online,
begitu aturannya… Senin depan, kami mulai masuk ujian mid-semester di kampus.
~Rhd

0 Comments