Oleh: Fitri
Kasus mengenai Audrey gadis yang mendapat perilaku
bullying
mengingatkan saya dengan diskusi
hangat bersama teman dengan teman. Hasil
diskusi tersebut bersarang pada pertanyaan ‘sebenarnya seberapa penting sih
pendidikan di Indonesia saat ini?’ Mungkin sebagian orang menanggap pendidikan penting karena bisa
menaikkan derajat mereka di mata
keluarga dan orang sekitar, ada untuk mendapat perkerjaan yang layak, ada juga
hanya suka mengoleksi gelar, ada karena memang suka belajar dan masih banyak
alasan orang untuk meraih pendidikan yang tinggi. Apa semua alasan itu dapat
diterima di masyarakat? tentu saja tidak. Jika kamu berpendidikan hanya karena
ingin derajatmu tinggi maka kamu akan tersaingi oleh keluarga-keluarga yang memiliki perkerjaan lebih baik. Jika kamu ingin mendapat pekerjaan yang layak,
maka jangan salah, banyak orang bergelar master degree namun tidak mendapat pekerjaan. Trus jika hanya untuk mengoleksi gelar, untuk apa gelar itu?.
Karena suka belajar makanya pengen
sekolah terus? sampai kapan?.
Kondisi di atas beberapa tanggapan masyarakat fenomena terhadap pendidikan. Jadi untuk apa
pendidikan itu? Apa pendidikan hanya dilakukan di sekolah, rumah, atau
institusi?. Jika dilihat di Kamus Besar Indonesia (KBBI), Pendidikan diartikan sebagai proses
pengubahan sikap dan perilaku untuk pendewasaan diri melalui upaya pembelajaran
dan pelatihan. Jadi, pertanyaan tentang apa dan dimana pendidikan itu sudah
tercakup semua berdasarkan KBBI.
Beberapa orang selalu menganggap pendidikan
harus dilakukan disekolah untuk formal dan biar dapat gelar. Pertanyaannya apa
hanya sebatas gelar semata tanpa melihat dari sudut pandang perilaku dari pemilik
gelar itu. Gini ya, banyak di luar sana pemilik gelar tinggi tapi cara bersikapnya sangat
minim. Hal ini terjadi
karena pedidikan hanya dipandang sebagai ajang untuk meninggikan derajat saja.
Seperti beberapa kasus yang terjadi, tidak hanya Audrey tapi beberapa tindakan kekerasan sexual,
bullying dan kriminal lainnya terjadi di sekolah, di salah satu institusi pendidikan berlangsung. Peristiwa
memilukan ini terjadi karena kurangnya pemahaman terhadap pendidikan di Indonesia, dan rendahnya
kesadaran masyarakat dalam mengartikan pendidikan itu. Kok bisa? Yaa, karena sekolah sebagai sarana pendidikan
mewajibkan siswanya belajar formal dan jika tidak mampu maka dianggap
"bodoh" kemudian si siswa akan merasa dirinya bodoh, dan untuk mengungkapkan kebodohannya itu, mereka melakukan berbagai macam cara untuk
menunjukkan jika dia bodoh maka tidak ada salahnya melakukan hal itu (tindakan
kekerasan). Tindakan merendahkan ini yang mungkin dianggap sepele tapi akan
berdampak besar dikemudian hari.
Diatas semua itu, hargailah orang yang
memiliki pendidikan yang lebih baik (gelar) karena percayalah meskipun perilaku
orang tersebut jauh dari kata berpendidikan tapi usaha untuk mencapai
pendidikan tinggi (gelar) itu tidaklah mudah. Meskipun ada sebagian orang berpendapat jika pendidikan (gelar) itu dapat dibeli maka berpikirlah lagi jika
uang yang mereka gunakan untuk membeli pendidikan (gelar) itu merupakan hasil
dari orang yang bependidikan sebelumnya yang disertai kerja keras. So, don't waste your time for
judge any people. May be they have what you don't have.
Sumber: Disadur dari ftrfitriani.blogspot.com atas izin penulis

0 Comments