Oleh
RhD
![]() |
| ig: r.ahmad_rp |
Ketika
saya membuat tulisan ini, keberadaan saya cukup jauh dari Kampus Merah yakni di
Universitas Sriwijaya, Palembang Sum-Sel. Tulisan ini rekomendasikan bagi
mahasiswa baru (maba) yang berada di depan gerbang Lembaga kemahasiswaan. Terlepas
dari peran orang tua yang nomor satu dalam kesuksesan seorang anak, saya akan
berbicara banyak tentang organisasi yang membesarkanku selama saya menyandang
status mahasiswa.
Saya adalah mahasiswa baru yang
lahir dari kandungan salah satu Lembaga Kemahasiswaan yg ada di Universitas
Hasanuddin. Lembaga ini lumayan cukup tua baik dari segi Lembaga Mahasiswa
(Lema) Badan Eksekuti tingkat Fakultas terlebih di tingkat Jurusan. Tak banyak
dari angkatan kami yang bisa menikmati aktivitas lembaga pada masa itu, saya
tidak tahu secara pasti apa penyebabnya namun orang-orang yg berjuang pada masa
itu dalam hal penanaman karakter pastilah dapat menjadi sumber yang dapat
dipercaya kebenarannya. Setelah kata Perpeloncoan menjadi bahan momok
menakutkan bagi mahasiswa baru (maba) maka lahirlah kata “Pengkaderan” yang
menjadi gantinya dari berbagai sumber yang memasuki isi kepala mereka. Padahal
hal itu belum tentu benar atau salah. Benar atau salah belum diketahui sebelum
seorang maba mencobanya hingga akhir proses. Kata Pengkaderan sebenarnya lebih
cocok dalam KBBI adalah pengaderan, namun orang lebih memandang estetikanya
seperti yang saya dapatkan dari seorang sumber. Kata itu pulalah yang mewakili
kehidupan berlembaga di kampus Universitas Hasanuddin yang terkenal kegagahan
mahasiswanya berorasi, suatu proses yang terencana secara pasti oleh sekelompok
mahasiswa untuk penanaman karakter
kepada maba sebagai calon generasi penerus lembaga dan orang-orang yang sudah
berada didalam lembaga tersebut. “Memanusiakan manusia” adalah kalimat yang
akan sering kita dengar pada proses tersebut, namun kalimat itu tidaklah
semudah dalam menyebutkannya. Butuh banyak pengorbanan dalam merealisasikannya
karena kalimat itu sangat erat hubungannya dengan kata “karakter” manusia yang
dalam perjalanan di masa depan akan senantiasa digunakan. Saya tak mampu
menyebutkan satu persatu yang telah diberikan lembaga kepada saya pribadi. Dapat
berbicara lantang di depan umum, menganalisis masalah dengan baik, berani dan
cepat dalam mengambil keputusan, peka terhadap kehidupan sosial, dapat
berinteraksi dengan segala golongan, mendapatkan keluarga baru yang tidak sedarah
dan masih banyak lagi adalah rentetan manfaat yang akan diberikan lembaga
kemahasiswaan ketika seorang kader mengabdikan diri dengan sebenar-benarnya
pengabdian.
Pertukaran Mahasiswa Tanah Air
Nusantara (PERMATA) oleh DIKTI
mungkin adalah salah satu kesuksesan akademik yang dipandang oleh orang lain
pada diri saya. Namun sejujurnya hal tersebut ada karena mendapat bantuan dari
berbagai pihak, salah satunya adalah lembaga kemahsiswaan yang menurut saya
adalah faktor dominan yang menuntunku ke titik tersebut. Atau dengan kata lain
itu adalah sejatinya kesuksesan milik orang-orang yang pernah memegang jabatan
struktural selama saya berlembaga. “Perbanyaklah membantu orang lain melalui
organisasi ini maka urusanmu akan dimudahkan oleh Tuhan” kata seorang senior
yang pernah menasehatiku. Kalimat tersebut tidak sesederhana seperti saat
membacanya. Dibelakang ini setelah menjalani kepanitiaan baru saya pahami bahwa
model pembelajar yang ditanamkan dalam lembaga mahasiswa adalah paham yang
mengajarkan kader-kadernya untuk tidak selalu memikirkan diri sendiri baik dalam
hal akademik terlebih organisasi. Melalui organisasi seorang lebih mendapatkan
banyak ilmu setelah dibangku perkuliahan, ilmu apapun itu. Di lembaga kita
tidak diajarkan untuk membedakan urusan akademik dan organisasi, seorang senior
pernah berkata “jika kalian cerdas menempatkan organisasi sebagaimana peranya
maka kalian akan menjalani hidup dimana organisasi dan akademik tidak memiliki
pembatas lagi”. Peran Lemabaga Mahasiswa tidaklah jauh beda dengan peran
kebanyakan organisasi pada umumnya yaitu sebagai wadah bagi anggotanya untuk
mencapai kesejahteraan tak terkecuali dalam hal ini Go Akademik seperti banyak
diimpikan oleh sebagian mahasiswa yang kacamatanya hanya mengarah kedepan.
Sukses akademik bukanlah suatu hal susah bagi Lembaga Mahasiswa, dikarenakan
paham yang dianut oleh aktivis lembaga, mereka tidak akan pernah tenang sebelum
mengajarkan hal yang dimiliki kepada juniornya apalagi jika ilmu tersebut
didapatkan dari kakak senior mereka. Sering saya membuat dosa kepada senior
dikarenakan besok ada final Stereokimia contohnya dan saya meminta kepada kakak
tingkat yang ada lembaga untuk diberikan pemahaman mendalam, sedikit lagi waktu
adzan subuh barulah beliau menghentikannya. Tak ada udang dibalik batu apatah
lagi upah. Mereka hanya paham satu hal bahwa setelah seorang telah menginjakkan
kakinya didalam kehidupan berlembaga mereka maka pantang kader dilihat
kesusahannya. Finansial, waktu, tenaga terlebih dalam hal akademik mereka siap untuk
berkata “adakah yang bisa saya bantukan ko dek? ”. Hampir selama saya
menyandang status mahasiswa tak memiliki alasan susah atau berkata “ini
organisasi nahambat ji akademik ta”, tidak sedikit pun ada niat seperti itu. Dunia lembaga merupakan nilai tambah bagi
seorang mahasiswa yang menjalaninya dengan totalitas ke arah positif, entah itu
hasilnya didapatkannya kelak ataupun saat ini yang pasti seorang kader akan
dibuat terbiasa dengan hal-hal yang membuat orang menjadi besar dikehidupan
sosial. Bagi yang baru ada digerbang Lembaga Kemahasiswaan saat ini,
kawan-kawan harus memperjelas niat terlebih dahulu. Ingat bahwa bola basket
akan memantul sesuai dengan porsi tenaga yang kalian diberikan saat
memantulkannya seperti itulah hukum kekelan energi. Berlembaga bukanlah sesuatu
hal permainan, berlembaga bukan cuman soal mempertanyakan kepada lembaga apa
yang akan diberikan, namun berlembaga adalah suatu yang indah ketika kalian
mampu menjalaninya dengan totalitas begitulah kata seorang koordinator
pengkaderan di lembaga tempat saya menimbah ilmu. Dari kacamata sosial, masalah
demi masalah akan kalian dapati dalam dunia organisasi, namun jangan pernah
lari akan semua itu, tumbuh besarlah secara pasti dan pelahan seperti
layang-layang yang naik dengan datangnya angin menerpah. Dan yang paling
berkesan dalam proses pengkaderan adalah kalian akan mendapatkan saudara tak sedarah
yang terlebih dahulu merasakan sakit ketika melihatmu tertusuk duri. Dengan
berlembaga bukanlah hal yang tidak mungkin untuk mendapat prestasi gemilang dan
kecerdasan sosial. Ketika semua hampir diajarkan dengan lisan maka mengkaderlah
tanpa berkata, mungkin itu adalah cara yang baik untuk membuktikan kepada orang
banyak bahwa seniormu yang dahulu itu benar “aktivis bisa juga go akademik”.
Sedikit banyaknya cerita diatas
adalah berasal dari maba yang telah menjalani proses pengkaderan di lembaga
kemahasiswaan kurang lebih selama 3 tahun, namun selama itu pula maba tersebut
belum mendapatkan kondisi yang sama ditahun pertamanya mengenai pembatasan
birokrasi kampus terhadap dunia lembaga kemahasiswaan, tetapi tidak dipungkiri
bahwa hampir tiap tahunnya ada. Meski pengkaderan bukanlah suatu hal yang wajib
dari kacamata birokrasi kampus saat ini, percayalah Bapak dan Ibu…Pengkaderan
bagai Hutan untuk kota, bagai rentetan symbol untuk setiap bilangan, bagai keseimbangan
untuk semesta dan bagai Oksigen untuk Mahluk Hidup. Setiap hembusan nafas
adalah pengkaderan. Marilah membina kebersamaan dengan berlembaga, berkompetisi
tidak harus ber-individu dalam hal meningkatkan mutu
Salam
Kebebasan Berbicara
Palembang, 13 September 2015

0 Comments